Tantangan sebagai CEO Partner

Paulus Bambang WS

Tantangan ke depan bagi perusahaan bukan hanya berkutat pada masalah perubahan politik, ekonomi, sosial dan teknologi, tapi yang secara paling radikal akan mengalami transformasi adalah perubahan paradigma manusia dalam bekerja. Manusia sebagai aktor utama dan determinan kesuksesan sebuah perusahaan dalam dekade mendatang perlu dikelola secara berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Buku-buku tentang pengelolaan SDM yang masih berkutat pada manusia sebagai human resources dan human capital akan semakin tidak relevan. Manusia akan semakin menyadari bahwa ia adalah human being bukan sekedar resources apalagi capital.

Manusia yang bekerja akan semakin membutuhkan sentuhan sebagai human being, makluk spiritual yang membutuhkan kepuasan dari segi material, emosional dan spiritual. Kata pepatah kuno, “Man is a spirit, he has a soul and resides in a body“. Artinya, memandang manusia bukan sekedar tubuh yang butuh pangan, sandang dan papan. Atau, meminjam istilah Maslow, sampai tingkatan kelima yakni “Self Esteem” pun itu belum mencerminkan gambaran manusia seutuhnya. Manusia adalah karya agung Tuhan. Tidak ada ciptaan seindah manusia.

Kesadaran ini akan semakin meningkat di dekade mendatang. Manusia akan menggugat habis kalau ia diperlakukan seperti mesin dalam konteks faktor produksi. Demokrasi dan informasi yang semakin terbuka akan menciptakan cakrawala baru bagaimana manusia lain di belahan bumi lain diperlakukan.

Tantangan inilah yang akhirnya akan menghabiskan banyak waktu para CEO untuk bertindak. Bagaimana mengelola manusia sebagai keunggulan utama yang tak dapat dibandingkan dengan perusahaan lain? Teknis alat dengan perkembangan teknologi akan semakin merata. “Technology in the futue will make market leader’s products similar to new entrants. The only differentiator is the people who operates“. Dan, manusia ini tidak mungkin dicarikan persamaannya. Jenis manusia, komposisi manusia, keragamanan dan interaksi dalam sebuah wadah yang disebut organisasi menciptakan sosok kelompok yang tidak mungkin ditiru oleh perusahaan lain.

Sistem, cara kerja, kebijakan bahkan beberapa orang penting bisa di-hijack oleh pesaing untuk meniru kelompok lain, tapi hasilnya dijamin pasti berbeda. Karena bukan hanya yang penting dan STAR yang membuat perbedaan, tapi interaksi dalam wadah perpaduan itu yang membuat perbedaan.

Dalam konteks inilah HRD akan berperan aktif. Menjadi jembatan antara kebutuhan kinerja finansial, emosional dan spiritual. Menjadi penghubung antara prestasi organisasi dan prestasi pribadi dalam konteks yang lebih dalam dari sekedar self esteem.

Menghubungkan titik-titik terputus dari Misi, Visi, Sasaran dan Strategi para individu pimpinan menjadi satu garis lurus yang menghubungkan petinggi dan karyawan di strata paling bawah adalah tugas yang tak pernah mengenal kata ‘sempurna’. Selalu ada belokan, dan selalu ada room for improvement. SDM yang mampu mewujudkan hal ini harus menjalani lima peran yang harus dikerjakan.

Tugas yang berat ini memang selayaknya tidak dikerjakan sendiri oleh para profesional HR. Ia harus melibatkan sebanyak mungkin fungsi dan bidang lain agar mampu menjadi mitra kerjanya yang efektif. Ia harus mampu menjadi konduktor dari semua lini untuk bernyanyi dengan bahasa dan nada yang sama. Bahasa yang sama artinya, ia mengerti bahasa bisnis bukan mengajak orang bisnis mengerti bahasa HRD saja. Nada yang sama artinya falsafah pengelolaan SDM harus se-‘kunci’. Kalau CEO menggunakan nada dasar C, yang lain harus mengikutinya. Para pimpinan lini yang berusaha menggantinya dengan nada dasar D walaupun ia adalah penyanyi top, bukanlah tim yang pantas masuk dalam simfoni perusahaan itu sendiri.

Pertanyaannya sekarang:

1. Sampai sejauh mana CEO dan CHR memandang manusia dan kelompok manusia itu sebagai suatu sumber keunggulan yang tidak mungkin ditiru pesaing?

2. Seberapa dalam kebijakan dasar perusahaan dalam SDM mewujudkan manusia yang bekerja sebagai pusat keunggulan?

3. Seberapa besar dana yang dianggarkan untuk mewujudkan potensi yang tertandingi tersebut?

4. Apakah pusat keunggulan yang dibangun masih dalam konteks pengembangan ketrampilan dan pengetahuan saja? Atau, sudah mulai menyentuh aspek pengertian dan kebijakan yang berhubungan dengan emosi dan spiritualitas?

5. Seberapa sering Anda dan CEO Anda berdiskusi tentang sumber keunggulan perusahaan ini?

Kalau Anda mampu menjawab dengan tegas kelima hal tersebut, bahagialah Anda bahwa Anda setidaknya sudah melangkah lebih jauh lagi. CEO desk is yours.

Penulis adalah Vice President Director PT United Tractors Tbk.
Author buku ‘Best Seller’: Built to Bless. The 10 Commandments to transform your Visionary Company – Built to last – to a Spiritual Legacy.

Tags: , ,