Menghadapi CEO yang Tak Bisa Dijadikan Partner (Bag. 1)

Paulus Bambang WS

“Bagaimana kalau CEO saya tak mau tahu soal HR atau bahkan tidak menganggap penting masalah HR atau bahkan berperilaku bertentangan dengan kaidah HR? Apa yang harus saya perbuat?” Begitu banyak keluhan rekan HR pada sejumlah pertemuan.

Pertama, CEO sering diangkat menjadi CEO karena kemampuannya menghasilkan bilangan yang membuat buku perusahaan jadi cantik. Kemampuan ‘berbisnis’ ini sering membuat para CEO ini lupa, bahwa ketika ia sudah menjadi CEO ia tidak boleh menjadi ‘super salesman’ atau ‘super financial analyst’ atau ‘master of financial engineering’. Ia harus berubah menjadi Leader dengan leadership yang mengintegrasikan seluruh fungsi dengan keseimbangan dan prioritas yang sesuai dengan visi yang ditetapkan.

Kalau CEO Anda ‘kekurangan’ kompetensi di bidang yang selama ini tidak ia tekuni maka tugas adalah sebagai ‘CEO Coach’ untuk mengembangkan CEO menjadi CEO yang seharusnya. Ini ‘mind set’ yang sangat penting. ‘Unless’ Anda mampu membuat CEO Anda melek HR, Anda tidak akan pernah jadi CEO Partner. Karenanya, menjadi CEO Coach adalah tugas yang pertama dan utama yang harus dikerjakan.

Mulailah dari ‘menjual’ kemampuan Anda meramu ilmu ‘manajemen strategik’ dengan menawarkan diri memfasilitasi ‘planning cycle’. Merumuskan misi dan visi serta strategi jangka panjang dan pendek sesuai dengan ‘dream’ CEO Anda. Kalau Anda dianggap ‘credible’, maka CEO umumnya akan sangat senang kalau ia dibantu.

Perumusan misi, visi dan strategi adalah ‘pain’ para CEO yang muncul dari kalangan operasional tanpa mendalami aspek konsep yang memadai. Panglima perang di lapangan biasanya sangat lemah pada aspek konseptual. Anda harus membantu mereka memperkuat bidang ini bukan malahan mengoloknya. Sebagai CEO Coach, tugas Anda untuk membuka wawasan bahwa kepentingan jangka panjang sangat kritikal dan itu harus dirumuskan mulai sekarang termasuk di dalamnya penyiapan HR yang acap kali dianggap selalu terlambat.

Untuk itu komunikasi yang rutin dengan CEO yang sangat operasional ini harus sering dilakukan. Komunikasikan ide Anda soal misi, visi dan strategi perusahaan yang baru, yang dapat Anda ambil idenya dari berbagai ‘benchmark’ di belahan dunia lain. Dalam tahap awal ‘HINDARI MEMBICARAKAN SOAL HR DENGAN TERMINOLOGI HR YANG SULIT DIMENGERTI ORANG AWAM”. Jadikan Anda adalah seorang manajer, kepala divisi atau direktur yang kebetulan mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai HR functional expert dan bukan sebaliknya.

Bacaan dari journal manajemen strategis menjadi amat penting. Luangkan waktu untuk menimba ilmu setidaknya satu jam sehari. Dengan internet Anda bisa mendapat banyak ide dan konsep yang cocok dengan konsisi perusahaan anda sekarang. Carilah masukan sebanyak-banyaknya dari para ahli di pelbagai belahan dunia dengan hanya berbekal ‘google search’ dan langganan jurnal gratisan pun sudah cukup. Lalu rangkum dalam sebuah foil presentasi, maksimal 10 halaman, yang sederhana tapi Anda rasa cocok menjawab ‘pain’ CEO anda SAAT INI.

Pada mulanya memang terasa aneh, tapi dengan berjalannya waktu, para CEO merasa aneh kalau Anda tidak mengupdatenya dengan the latest trend in the world terhadap masalah bisnis yang dihadapinya sekarang ini.

Misalnya, masalah perusahaan Anda soal declining margin, Anda bisa berdiskusi dengan CEO Anda dengan berbekal konsep “The Profit Zone’. Atau CEO sedang gundah menghadapi declining market share karena persaingan di red ocean yakni harga, anda bisa memberikan wawasan bagaimana menumbuh kembangkan sikap inovasi di perusahaan sehingga dapat menemukan ‘blue ocean strategy’. Atau CEO sedang gelisah menghadapi pemeriksaan pajak dan panggilan KPK, Anda bisa berdikusi dengan menawarkan konsep ‘Built to Bless’ yakni perusahaan yang mencapai sukses dengan integritas spiritual yang tinggi (Ini bukan promosi buku yang saya tulis lho).

Bila konsep atau solusi yang Anda ‘jual’ sebagai CEO Coach itu ‘dibelinya’. Maka secara otomatis konsep itu akan membawa dampak peningkatan kredibilitas Anda sebagai CEO Partner sekaligus memuluskan program HRD Anda untuk mendukung konsep yang Anda tawarkan. Bila Blue Ocean Strategy yang dipilih, strategi HR Anda bisa masuk dengan menawarkan pelatihan inovasi, insentif buat inovasi serta membuat solusi baru dengan konsep inovasi yang masuk dalam key performance indicator masing-masing fungsi. Dengan kata lain, program HR Anda mendadak menjadi program CEO karena mendukung konsep yang ia hendak lakukan.

Kalau ini terjadi, Anda tidak perlu bersusah payah untuk mendapat komitmen karena komitmen sudah Anda ciptakan tatkala Anda menawarkan solusi atas ‘pain’ yang sedang ia rasakan.

Selamat datang di era CEO COACH.

Penulis adalah Vice President Director PT United Tractors Tbk.
Author buku ‘Best Seller’: Built to Bless. The 10 Commandments to transform your Visionary Company – Built to last – to a Spiritual Legacy.

Tags: , ,