SEMINAR DAN DIALOG NASIONAL: PANCASILA: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

Pendaftaran Online

SEMINAR DAN DIALOG NASIONAL
PANCASILA : ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN
23 Juli 2008
Universitas Pancasila, Jl. Raya Lenteng Agung, Srengseh Sawah Jagakarsa
Jakarta Selatan 12640

Latar Belakang
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbentuk melalui perjuangan seluruh komponen bangsa. Proklamasi 1945 dan Sumpah Pemuda 1928 merupakan titik tolak yang membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Setelah menjadi bangsa yang merdeka, Indonesia melakukan pembangunan di segala bidang. Pada masa awal berdirinya Republik Indonesia, semangat kebangsaan yang begitu kuat mampu mengatasi berbagai kendala, karena keterikatan kita sebagai Bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. Namun pada era kemerdekaan saat ini, semangat kebangsaan tersebut tampaknya mulai memudar. Menurut Sultan Hamengku Buwono X dalam bukunya ”Merajut Kembali Ke-Indonesia-an Kita”, kehidupan bangsa Indonesia dalam dasawarsa terakhir ini dihadapkan pada tantangan yang berat.

Tantangan tersebut mencakup: (1) menguatnya budaya konsumerisme dan kekerasan; (2) menipisnya kesadaran pluralisme dan semangat kebangsaan; (3) tingginya kemiskinan dan pengangguran; dan (4) ketertinggalan dalam membaca dinamika geopolitik yang terjadi di Pasifik Rim. Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya memupuk kembali semangat kebangsaan, yang salah satunya adalah melalui Seminar dan Dialog Nasional dengan tema ”Pancasila: Antara Harapan dan Kenyataan”.

Pembangunan Indonesia dilakukan dalam aspek kebudayaan, kebangsaan, ekonomi, politik, hukum, pertahanan dan keamanan berlandaskan pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang multi-etnik. Membangun jati diri bangsa Indonesia merupakan pekerjaan besar yang melibatkan semua unsur bangsa Indonesia. Menipisnya kesadaran pluralisme dan semangat kebangsaan merupakan salah satu tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas (2 Juni 2008), publik menilai bahwa aspek kebangsaan yang tercermin dalam rasa persatuan dan kesatuan bangsa sebenarnya sedang mengalami proses perapuhan. Menurut Suryaningtyas, telah terjadi penyusutan memori kolektif atas pengetahuan tentang dasar negara Indonesia (Kompas, 2 Juni 2008). Jajak pendapat Kompas pada dua tahun terakhir mencatat adanya kondisi tersebut. Ingatan paling kuat responden hanya berhenti pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana 81,6 persen responden menjawab dengan benar. Proporsi responden yang menjawab dengan benar pertanyaan tentang sila-sila Pancasila dari sila kedua dan selanjutnya terus menurun hingga proporsi terendah, yaitu 52 persen responden yang dapat menyebutkan dengan benar isi sila.

Masalah perapuhan ideologi tersebut berhubungan erat dengan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam bidang ekonomi saat ini. Dalam jajak pendapat Kompas pada awal Mei 2008, 95 persen responden menilai bahwa negara masih gagal dalam menjamin ketersediaan bahan pangan dan sembako yang murah serta kesempatan kerja yang layak. Pembangunan jati diri bangsa Indonesia tidak bisa terlepas dari pembangunan di bidang ekonomi.

Reformasi dan demokratisasi telah membawa bangsa Indonesia kepada perubahan, namun belum menyentuh pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Dengan perkataan lain, terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kondisi ini memicu timbulnya pertanyaan: sejauh mana sila-sila Pancasila dapat menjawab permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini? Bagaimana mengatasi kesenjangan tersebut? Dalam menjawab tantangan ekonomi dan bisnis ada empat elemen yang terpadu: inteligensi/strategi, proses, teknologi, dan SDM (Sultan Hamengku Buwono X, 2008). Kehilangan kemampuan pada salah satu elemen bisa kurang menguntungkan bagi terciptanya iklim investasi yang kompetitif. Cita-cita yang terkandung dalam Pancasila tidak akan dapat menjawab tantangan ekonomi bila salah satu elemen, yaitu Sumber Daya Manusia tidak mendukung terwujudnya pelaksanaan nilai-nilai Pancasila. Dibutuhkan pemimpin-pemimpin bangsa yang berkarakter kuat dan menjalankan darmanya sebagi seorang ksatria dengan cara: mengabdi untuk kesejahteraan rakyat; tidak berambisi kecuali untuk kesejahteraan rakyat; berani mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah; dan memanusiakan manusia atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan didukung oleh pemimpin-pemimpin bangsa yang memahami dan bersedia melaksanakan nilai-nilai Pancasila, diharapkan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia akan semakin kokoh. Saat ini bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin berwawasan kebangsaan yang mampu

mempersatukan segenap elemen bangsa. Kebangsaan Indonesia dilahirkan oleh generasi Budi Oetomo yang merupakan generasi terdidik bumiputera. Dengan demikian, pendidikan juga merupakan salah satu aspek penting dalam melahirkan pemimpin-pemimpin visioner yang berwawasan kebangsaan. Upaya mengisi kemerdekaan dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa tidak terlepas dari keberhasilan di bidang pendidikan. Meskipun perkembangan politik dan ekonomi bangsa Indonesia saat ini masih belum sesuai dengan harapan, kita harus tetap optimis bahwa bangsa Indonesia dapat memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Sejarah membuktikan pelaksanaan nilai-nilai dalam dasar negara Pancasila mampu menjadi landasan yang kuat bagi utuhnya bangsa Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa masih mampu menjadi ”alat” bagi keterikatan kita sebagai suatu bangsa. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini Pancasila kurang mendapat perhatian sebagai penentu arah kebijakan dalam penyelenggara negara. Ideologi suatu bangsa dapat diartikan sebagi konsep baku dari sekelompok orang atau bangsa yang dengan konsep tersebut bangsa Indonesia berjuang bersama-sama untuk merajut ke-Indonesia-an kita. Pancasila adalah alat perekat bagi bangsa Indonesia yang plural. Pada saat ini bangsa Indonesia menghadapi ancaman disintegrasi. Adanya ancaman disintegrasi tersebut bukan disebabkan kesalahan pada nilai-nilai Pancasila, melainkan adanya penerapan nilai-nilai Pancasila yang kurang tepat dalam kehidupan sehari-hari. Revitalisasi nilai-nilai Pancasila menjadi agenda besar bangsa Indonesia saat ini ke depan agar keterikatan kita sebagai suatu bangsa dapat dipertahankan dan dikembangkan untuk menghadapi ancaman internal dan eksternal. Selain itu, melalui revitalisasi nilai-nilai Pancasila diharapkan akan dapat memperkokoh Pancasila sebagai ideologi yang berakar pada budaya bangsa Indonesia.

Dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni, serta menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, Fakultas Psikologi Universitas Pancasila bekerja sama dengan HIMPSI Jaya (Himpunan Psikologi Indonesia DKI Jakarta) dan LKPKB (Lembaga Kerjasama Penumbuhan Karakter Bangsa) bermaksud menyelenggarakan Seminar dan Dialog Nasional bertema ”Pancasila: Antara Harapan dan Kenyataan”, yang diharapkan dapat menjadi awal dari bergulirnya wacana implementasi ke-Indonesia-an kita kepada para penerus bangsa dalam konteks era globalisasi dan demokratisasi.

Tujuan dari seminar dan dialog nasional ini adalah untuk :

  1. Meningkatkan semangat kebangsaan dan memperkuat jati diri bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila.
  2. Menjadi tonggak dimulainya upaya-upaya praktis merevitalisasi nilai-nilai kebangsaan Indonesia berdasarkan Pancasila.
  3. Meningkatkan kesadaran para profesional dan kaum muda dalam membangun manusia Indonesia secara holistik berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Jadwal dan Pembicara:

Waktu Agenda Acara
08.00 – 08.30 Registrasi Peserta / Morning Coffee
08.30 – 08.45 Pembukaan dan Sambutan oleh Rektor Universitas Pancasila
08.45 – 09.15 Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan Yogyakarta / Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta)
“Pancasila dan Kepemimpinan yang Visioner dalam Perspektif Semangat Kebangsaan”
09.15 – 09.45 Dr. (HC) Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
“Pancasila dan Pengembangan Sumber Daya Indonesia Tangguh”
09.45– 10.45 Diskusi
10.45 – 11.15 Dr. Budi Matindas (Psikolog)
“Agen Perubahan Implementasi Nilai-nilai Pancasila”
11.15 – 11.45 Nurul Arifin (Tokoh Wanita / Mewakili Kaum Muda)
“Post Modernism, Kaum Muda, dan Pancasila”
11.45 – 12.45 Diskusi

Moderator : Alfito Deanova

Contact Person:
Fakultas Psikologi Universitas Pancasila (021-7888 2874)
Shinta(0815 922 0740) atau email: aullygrashinta@yahoo.com
Pita (0815 889 8181)

Pendaftaran Online