Rekrutmen Kreatif Makin Diminati

Banyak organisasi mulai berencana mengurangi anggaran untuk menjaring calon karyawan lewat iklan cetak dan media-media lazim lainnya, dan akan lebih memanfaatkan elemen-elemen Web 2.0 seperti situs-situs jaringan sosial dan bisnis, program-program referal, blog, video dan dunia-dunia virtual. Situs rekrutmen online yang bersifat umum pun mulai dikeluhkan efektivitasnya.

Perang talent dan usaha-usaha mencari kandidat berkualitas sedang mengalami pergeseran. Survei atas 177 praktisi rekrutmen dan eksekutif HR di Amerika menunjukkan bahwa perubahaan besar akibat kemajuan teknologi komunikasi menjadi berdampak bagus praktik rekrutmen tenaga kerja.

Survei bertajuk Recruitment Advertising: Moving in New Directions tersebut dilakukan oleh lembaga konsultan periklanan Classified Intelligence LLC bekerja sama dengan komunitas rekrutmen online ERE Media Inc. Responden mengaku akan lebih banyak membelanjakan dana untuk situs-situs jaringan bisnis, jaringan sosial dan program-program referensi-karyawan pada 2008 dibandingkan dengan 2007. Dan, mengurangi dana untuk cara-cara (mencari kandidat) tradisional.

Partner Pendiri pada Classified Intelligence Peter Zollman menjelaskan, meskipun situs-situs online job masih dipertimbangkan sebagai “source of new hires” yang penting, namun ketidakpuasan mulai muncul berkaitan dengan kualitas kandidat yang didapat dari situs-situs online recruitment yang bersifat umum seperti itu.

“Laporan kami memperlihatkan peran yang semakin meningkat dari blog, jaringan sosial dan forum online, klip video, billboard dan medote iklan ‘alternatif’ lainnya sebagai sarana merekrut karyawan,” ujar Zollman. “Para rekruiter sedang berpindah dari media cetak dan menjadi semakin kreatif dalam memanfaatkan cara-cara baru termasuk dunia virtual, untuk mencari kandidat,” tambah dia.

Menurut laporan hasil penelitian tersebut, 6 dari 10 (61%) praktisi rekrutmen dan eksekutif HR telah mengantisipasi anggaran rekrutmen yang lebih besar pada situs-situs seperti Facebook dan jaringan sosial sejenis. Menyusul kemudian situs-situs jaringan bisnis seperti LinkedIn dan program-program referensi-karyawan (55%).

Sedangkan, satu dari 3 (35%) mengatakan akan meningkatkan dana untuk merekrut karyawan melalui situs-situs online job seperti Monster dan CareerBuilder. Perangkat video juga menarik perhatian dan responden menyebut VideoJobShop.com, YouTube dan Craigslist.

Generasi Google

Di samping alasan rendahnya biaya, situs-situs tersebut memungkinkan pihak perusahaan menampilkan video yang menjelaskan lingkungan kerja dan paket-paket benefit yang mereka tawarkan untuk kandidat. Pada sisi lain, bagi pencari kerja, situs-situs itu memberi kesempatan untuk meng-upload video resume mereka guna menarik perhatian para rekruter. Situs lain yang memanfaatkan video untuk proses kepentingan rekrutmen adalah HireVue.com dan careertours.com.

Direktur Eksekutif Rekrutmen Media dan Marketing pada First Advantage Recruiting Solutions Vangie Sison mengatakan, seiring dengan mundurnya generasi baby boomers, perusahaan dihadapkan pada kelangkaan talent sehingga perlu lebih kreatif untuk memenangkan persaingan dalam mendapatkan SDM berkualitas.

“Generasi Google, yakni mereka yang tidak bisa hidup tanpa internet, telah memasuki dunia kerja,” ujar Sison. Seiring dengan ini, bila dikaitkan dengan penelitian tadi, Peter Zollman menunjukkan temuan yang mengejutkan betapa para rekruter sekarang ini semakin “eksperimental”.

“Perang talent terus berjalan dan sejumlah orang menjadi sangat kreatif,” ujar Zollman seraya menyebutkan bahwa pendekatan-pendekatan baru dalam pencarian kandidat saat ini lebih powerfull. Dia menyebut contoh Heather Hamilton dari Microsoft dua-tiga tahun lalu adalah satu-satunya “employer blogger” di internet, tapi sekarang sudah ratusan orang.

Tags: