Perusahaan yang Kompetitif Dimulai dari Mindset Individu yang Kompetitif

Ketika persaingan sudah menjadi isu besar utama yang tak bisa dihindari lagi dalam dunia bisnis global, maka perusahaan memerlukan individu-individu dengan mindset yang kompetitif, memiliki daya saing yang kuat, yang mampu membuat perusahaan tempat mereka bekerja menjadi kompetitif pula.

Demikian antara lain benang merah yang bisa ditarik dari acara Competitiveness Management Forum di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (26/2) yang menampilkan Direktur GE Energy Handry Satriago. Menurut dia, perusahaan yang kompetitif, yang didorong oleh individu-individu yang kompetitif, pada akhirnya akan memberi kontribusi pada tingkat kemakmuran negara.

Oleh karenanya, dalam hemat Handry, untuk mencapai negara dengan tingkat kemakmuran yang tinggi, yang perlu diubah pertama kali adalah mindset dari individu dalam negara itu dulu. “Kalau hanya pekerjaan kita saja yang dipikirkan, without thinking globally, kita akan ketinggalan,” ujar dia. Handry mengingatkan, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang besar tidak menjamin suatu negara menjadi makmur. Dia kemudian membandingkan antara Indonesia yang luas dan kaya SDA dengan Singapura yang memiliki lahan sempit.

Dikisahkan, Lee Kuan Yew pada saat menjabat sebagai Perdana Menteri Singapura, ditertawakan oleh orang-orang ketika membangun Singapore Airlines. Mereka bilang, “Kamu mau ke mana? Terbang dari Changi ke Pulau Sentosa?” Ketika ia membangun kantor pos giro, orang-orang menertawakannya lagi, “Akan lebih cepat pakai transportasi darat.” Tapi, ia berkata, “I don’t want to serve Singapore, I want to serve the world!”
“Mindset dia sudah berubah, bukan hanya sebagai warga Singapura, tapi ia menyadari dirinya sebagai warga dunia,” Handry menyimpulkan.

Hal yang sama kembali ditekankan oleh Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya Bakrie, bahwa mindset sangat penting. Ujung tombak kemakmuran suatu negara adalah kualitas individu yang memiliki mindset, “Kita harus bisa, Indonesia harus bisa,” ujar dia.
Menurut Anindya, sebaik apapun strategi yang dicanangkan, kembali pada kemampuan sumber daya manusianya. Selain mindset dan budaya yang merupakan perekat segalanya, ia juga menekankan bahwa semua harus datang dari satu tujuan, dan itu lebih dari sekedar uang.

“Tidak bisa hanya karena uang,” tandas dia. Melainkan, bagaimana membuat customer happy, inovatif, atau affordability, dan tujuan tadi juga harus diserap bukan hanya oleh pihak manajemen saja, tapi oleh seluruh individu dalam perusahaan.

Tags: