Perusahaan Berlomba-lomba Tingkatkan Variable Pay

Sebuah survei terbaru mengenaji gaji menemukan bahwa perusahaan kini berlomba-lomba meningkatkan program-program variable pay untuk menarik dan mempertahankan talent.

Namun, survei baru yang lain menyimpulkan bahwa meskipun umumnya perusahaan menganut teori “membayar karyawan sesuai kinerja”, dalam praktiknya hubungan (antara “performance” dan “pay”) itu tidak jelas.

Dalam surveinya yang melibatkan 1.000 organisasi, Hewitt Associates di AS menemukan bahwa sebagai respon terhadap kesulitan-kesulitan dalam menarik dan mempertahankan talent, muncul “peningkatan yang tajam dalam usaha perusahaan mengadopsi program-program variable pay“.

Survei Hewitt melaporkan bahwa lebih dari 90% perusahaan kini memiliki “sedikitnya satu jenis rancangan variable pay” naik 10% dari hasil survei serupa pada 2006.

“Karyawan pastilah menyambut gembira program-program variable pay karena itu merupakan kesempatan untuk meningkatkan potensi pendapatan berdasarkan kinerja, di samping kenaikan gaji rutin yang tidak memperhatikan tingkat-tingkat kontribusi karyawan,” ujar Kepala Konsultan Kompensasi pada Hewitt.

Survei lain, yang dilakukan oleh Buck Consultants mempertanyakan apakah program-program tersebut efektif mencapai tujuannya. Survei ini menemukan bahwa 86% mengandalkan kinerja individu untuk meningkatkan pendapatan secara layak.

Survei bertajuk “Compensation Planning for 2008” ini menanyai 415 organisasi tentang anggaran-anggaran kompensasi mereka, komponen-komponen program reward dan desain-desain rancangan pay for performance.

“Dalam pengalaman kami, organisasi perlu me-re-engineer atau setidaknya sekedar mengkritisi kembali program-program reward untuk lebih benar-benar mencapai tujuan pay for performance, sesuai belanja yang sudah dikeluarkan manajemen untuk menggaji karyawan,” ujar Direktur Buck, Larry Reissman.

Tags: