Perusahaan Asing Berkah Bagi SDM di China

Seperti halnya Indonesia, saat ini China dipusingkan dengan ledakan lulusan perguruan tinggi. Dan, seperti halnya Indonesia pula, negeri tirai bambu itu dihadapkan pada persoalan serius tentang kualitas para sarjana yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Sebuah studi yang dilakukan The Conference Board menyimpulkan bahwa budaya “belajar menghafal” yang dominan dalam sistem pendidikan di China menghasilkan lulusan yang miskin dalam tiga hal utama. Yakni, pengalaman praktis, kreativitas dan keterampilan kepemimpinan.

Padahal, tiga hal itulah yang dibutuhkan dalam dunia bisnis modern. Kondisi tersebut tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Sistem pendidikan di China terlalu menekankan pada “hafalan”. Akibatnya, keterampilan lain seperti menulis kreatif, bicara di depan umum, dan kerjasama dalam tim terabaikan.

Pertumbuhan ekonomi China yang sangat pesat tercepat di dunia dalam seperempat abad terakhir kini dimotori oleh investasi asing. Banyak perusahaan asing mengibarkan branch mereka di China, mendirikan kantor cabang atau membangun pabrik.

Efek dari transformasi ekonomi tersebut, tak pelak, adalah tingginya permintaan akan tenaga kerja terlatih, khususnya orang-orang dengan keterampilan-keterampilan manajerial. Ini berujung pada munculnya tawaran paket-paket kompensasi bertingkat global bagi top talent dan level manajer.

“Pencarian talent makin dipersulit dengan fakta bahwa manajer yang berpengalaman tak banyak tersedia, dan harganya tinggi,” ujar Direktur bidang Demografi Global pada The Conference Board Judith Banister.

“Bagi perusahaan-perusahaan multinasional, kini tantangan mereka tidak hanya tentang merekrut SDM terbaik, tapi juga bagaimana mengembangkan dan mempertahankan mereka,” tambah dia.

Populasi Menua

Persoalan lain yang dihadapi China adalah tingginya tingkat populasi yang menua, dan kebijakan “satu anak” yang ketat. Dampaknya, kaum muda China terpicu untuk mengejar karir yang bagus agar mampu menopang tidak hanya kelangsungan hidup mereka sendiri, tapi juga anggota keluar mereka yang menua.

“Banyak kalangan manajer muda di China yang menanggung beban semacam itu, dan akan selalu siap pindah-pindah perusahaan guna mendapatkan gaji yang paling tinggi, serta status dan kesempatan yang lebih baik,” ujar Banister. “Itulah salah satu alasan, mengapa angka turnover karyawan bisa sangat tinggi di China,” tambah dia.

Kecenderungan untuk bekerja di perusahaan yang menjanjikan gaji tinggi, ditangkap sebagai peluang oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Mereka menjalin kemitraan dengan universitas, dengan tawaran program pengembangan SDM.

Hasilnya, perusahaan-perusahaan multinasional itu bisa mendapatkan SDM dengan skill yang mereka inginkan. “Ini sebuah pendekatan yang saling menguntungkan, karena mahasiswa mendapatkan pelatihan yang nantinya berguna bagi perusahaan yang bersangkutan,” kata Banister.

“Mahasiswa-mahasiswa itu jadi punya jalan pintas untuk masuk dan berkarir di perusahaan multinasional begitu mereka lulus,” sambung dia. Jika ada kendala, tak lain perusahaan-perusahaan multinasional itu masih sering mengalami kesulitan ketika harus menghadapi sistem pendidikan universitas yang percaya pada teknik belajar secara menghafal.

Tags: