Nike Akan PHK 1400 Karyawan

Raksasa sepatu sport Nike yang memiliki cabang perusahaan di seluruh dunia mengumumkan akan mem-PHK 1400 karyawannya secara global. Hal itu dilakukan untuk mengatasi penurunan tajam produksi dan penjualan mereka akibat pukulan resesi. Selain PHK, restrukturisasi yang akan dilakukan Nike mencakup pengkajian kembali seluruh rantai bisnis mereka, dari sumber dasar hingga pengecer.

“Keputusan pengurangan tenaga kerja ini sesuatu yang sulit, namun itu akan menempatkan bisnis kami dalam kemungkinan posisi yang kuat untuk melanjutkan profitabiltas dan pertumbuhan jangka panjang,” ujar CEO Nike Mark Parker, dalam pernyataannya di kantor pusat Nike di Beaverton, Oregon, AS, Selasa (10/2/09). “Di tengah iklim ekonomi sekarang, itu lebih penting daripada mempertajam fokus kami pada konsumen untuk memaksimalkan peluang untuk inovasi produk dan pengelolaan merk di pasar,” tambah dia.

Mengenai jumlah pasti, waktu dan lokasi pengurangan karyawan tersebut belum dirinci. Perusahaan masih mengkaji bisnis hingga akhir tahun fiskal mereka, Mei 2009 nanti. Jumlah karyawan Nike di seluruh dunia saat ini 35 ribu orang.

Produksi Turun

Dari Semarang dilaporkan, memasuki semester pertama 2009, produksi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Jawa Tengah turun hingga 40 persen. Ini membuat beberapa perusahaan mengurangi jumlah karyawan mereka. Di wilayah Kabupaten Semarang sendiri misalnya, hingga Selasa (10/2), Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) mencatat, dalam tiga bulan terakhir 1.135 buruh yang mayoritas dari sektor tekstil dan furnitur telah terkena PHK. Itu belum termasuk sekitar 3.000 buruh lainnya yang sudah dirumahkan.

”Itu baru di perusahaan besar, yang kecil belum termonitor semua,” kata Kepala Bidang Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang Budi Yuwono. Sementara, menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Komda Semarang Agung Wahono, hingga Februari 2009 sebagian besar industri TPT di Semarang, Kendal dan Salatiga belum mendapat kontrak ekspor jangka panjang.

Industri TPT saat ini hanya mengerjakan pesanan ekspor terputus. Padahal, tahun-tahun sebelumnya kontrak ekspor untuk setahun ke depan sudah didapat di penghujung tahun.
”Sekarang ekspor hanya by order. Ada pembeli dari luar negeri yang memesan, tapi mereka belum memberi kepastian waktu pengiriman. Penurunan ekspor TPT mencapai 40 persen,” ungkap Agung.

Hal yang sama dikeluhkan Direktur PT Iskandar Indah Printing Textile, Solo Bambang Setiawan. Produksinya untuk pasar dalam negeri telah turun hingga 40 persen. Adapun volume ekspor ke Timur Tengah dan beberapa negara di Asia turun 10 persen. Akibatnya, Bambang terpaksa merumahkan 30 persen pekerjanya secara bergantian. ”Dalam seminggu bekerja hanya tiga atau empat hari, tergantung produksi. Banyak barang masih menumpuk,” ujar dia.

Tags: , ,