Model “HR sebagai Partner Bisnis” Menemui Kegagalan

Teori yang mengatakan bahwa HR harus menjadi partner bisnis mulai mendapatkan kritik dari sebagian kalangan praktisi HR sendiri. Sejumlah praktisi HR terkemuka di dunia menyebut bahwa model “para manajer lini adalah HR bagi divisi masing-masing” sedang menunjukkan kegagalannya.

Sebelumnya, sebuah laporan hasil penelitian yang dilakukan Roffey Park di Inggris telah mengungkapkan hal yang sama. Perusahaan konsultan HR tersebut mensurvei 479 manajer dan menemukan bahwa separo dari mereka mengaku, model partner bisnis lebih banyak gagal ketimbang berhasil dalam organisasi mereka. Kalangan direktur HR, seperti dilaporkan Personel today mengaku tidak terkejut dengan hasil survei tersebut, meskipun model partner bisnis telah mendapatkan popularitasnya sejak 1997 ketika pertama kali diperkenalkan oleh mahaguru HR Dave Ulrich.

Deputi Direktur HR untuk NHS Employers Sian Thomas mengungkapkan, teori partner bisnis sulit berjalan sesuai gembar-gembornya. “Jika HR dianggap sebagai partner bisnis maka mereka harus lebih cerdas secara komersial dan harus lebih mengabdi pada perintah-perintah bisnis,” papar dia.Menurut dia, profesi HR sendiri tidak cukup mengembangkan orang-orangnya dengan keterampilan tersebut.

Thomas juga sependapat dengan survei yang menyimpulkan bahwa para manajer lini tidak cukup talaten untuk berperan sebagai manajer HR bagi divisinya masing-masing, karena hal itu “sama sekali tidak customer-focused.”Manajer HR pada perusahaan konsultan engineering Moot MacDonald, Jackie Ward mengatakan, “Meskipun partner bisnis merupakan ide bagus secara teori, namun sangat sulit untuk mencapainya dalam praktik. Sebab, fokusnya lebih pada pembagian layanan-layanan dibandingkan dengan menjadi partner bisnis secara penuh.”

Kendati demikian, senior HR pada lembaga amal Christian Aid, Jane Clark tetap membela model tersebut. “Menjadi bisnis partner adalah pekerjaan spesial tingkat tinggi yang banyak disalahpahami karena adanya implementasi yang buruk, dan orang hanya mengubah nama-nama peran tanpa membekali dengan keterampilan baru.”

Tags: