Mengapa Para Bos Sulit Menerima Masukan dari Karyawan?

Anda punya ide baru yang cemerlang, tapi selalu mentok dengan kenyataan bahwa bos Anda sulit menerima masukan? Cobalah bicara dengannya di luar kantor. Jabatan dan posisi yang tinggi dalam jenjang pekerjaan membuat orang lebih percaya diri dan cenderung sulit mendengar argumen orang lain.Demikian kesimpulan sebuah studi yang dipublikasikan dalam edisi terbaru Journal of Personality and Social Psychology di AS. Dikatakan, orang yang memegang posisi kekuasaan memiliki kepercayaan diri dalam apa yang mereka pikirkan, dimana hal itu membuat mereka sulit menerima masukan.

Namun, taruh mereka dalam situasi dimana mereka tidak merasa memiliki kekuasaan, maka Anda akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan perhatian dari mereka ketika Anda mengajukan ide-ide baru. “Jika Anda bisa membuat seseorang berkurang kekuasaannya, Anda akan memiliki kesempatan lebih baik untuk mendapatkan perhatian mereka,” ujar penulis laporan studi tersebut Pablo Brinol yang juga seorang psikolog sosial dari Universidad Autónoma de Madrid, Spanyol.

Studi tersebut diklaim sebagai yang pertama kali membahas bagaimana kekuasaan mempengaruhi persuasi, dan menemukan bahwa dalam latihan-latihan permainan-peran, orang yang merasa kecil kekuasaannya juga merasa kurang percaya diri terhadap validitas argumen mereka. “Penelitian kami memperlihatkan bahwa kekuasaan membuat orang lebih percaya diri dalam keyakinan-keyakinan mereka, tapi kekuasaan hanya satu hal yang mempengaruhi perasaan itu,” ujar penulis-pendamping studi tersebut, Richard Petty yang juga profesor psikologi pada Ohio State University.

Petty menambahkan, penting juga melihat kaitan antara saat datangnya pesan persuasif dengan saat seseorang merasa sedang berkuasa. Jika sebuah pesan datang ketika kekuasaan sedang “bekerja” pada mereka, maka yang bersangkutan akan sulit untuk dipengaruhi. Dicontohkan, jika Anda memiliki argumentasi yang kuat untuk disampaikan, cobalah untuk membicarakannya dengan bos saat berada di luar kantor, di mana kekuasaan sedang “tidak bekerja” padanya. Bawalah pembicaraan itu ke tengah acara makan siang atau di suatu tempat yang membuat si bos “lupa” bahwa dirinya seorang atasan.

Namun, jika argumentasi itu memang mendesak untuk disampaikan saat itu juga, di kantor, maka cobalah mengatakan sesuatu yang mampu mengusik rasa percaya dirinya. “Cobalah untuk mengutarakan sesuatu yang si bos tidak tahu, sesuatu yang membuat dia kurang yakin dan meragukan kepercayaan dirinya,” saran Petty.Hasil riset tersebut telah mengoreksi keyakinan sebelumnya bahwa kekuasaan cenderung membuat orang menyeleweng dan berbuat aksi-aksi yang negatif. Menurut Petty, kekuasaan membuat orang lebih cenderung “ngotot” dengan pemikiran dan aksi mereka. “Orang yang memiliki kekuasaan lebih cenderung bertindak berdasarkan apa yang sedang mereka pikirkan, entah itu baik atau buruk, tanpa berpikir dua kali,” simpul dia.

Tags: ,