Manajemen SDM Harus Hasilkan Manusia yang Berkarya, Bukan yang Bekerja

Pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi seyogyanya menghasilkan manusia yang berkarya, dan bukannya sekedar manusia yang bekerja. Pandangan ini harus dijadikan dasar dalam perkuliahan pendidikan sarjana maupun pascasarjana baik di bidang ilmu psikologi maupun manajemen.

Demikian antara lain pokok-pokok pikiran yang disampaikan oleh Fendy Suhariadi dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Manajemen SDM pada Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga di Surabaya akhir bulan lalu.

Menurut Fendy, dalam kondisi perubahan masyarakat global saat ini, diperlukan pula adanya perubahan mendasar dalam memandang manusia yang ada dalam organisasi. Terlebih dalam upaya peningkatan kualitas SDM yang benar-benar menghasilkan generasi yang memiliki nilai profesionalitas yang tidak dapat diragukan.

Fendy melihat, konsep manajemen SDM selama ini menempatkan manusia bukan sebagai individu yang “memiliki” alam, melainkan “aset” yang harus dimiliki untuk kegiatan produksi. Sering, manusia di dalam organisasi dipandang sebagai “alat produksi” yang setara dengan aset lain yaitu uang, material, mesin dan metode.

“Bahkan pada perkembangan selanjutnya, pandangan manusia sebagai aset ini sampai harus dikalkulasi sedemikian rupa, sehingga untuk setiap program pengembangan manusia selalu dikaitkan dengan ROI (return on investment),” papar dosen tetap di Fakultas Psikologi Unair sejak 1990, yang mulai 2007 menjabat Direktur Sumber Daya Unair itu.

“Manusia diperlakukan sebagai aset yang harus dihitung-hitung untung ruginya, atau dengan kata lain manusia benar-benar dianggap sebagai kapital (human capital),” lanjut anggota Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Industri & Organisasi (APIO) Indonesia itu.

“Pada kesempatan inilah saya ingin menyampaikan untuk menghimbau pada berbagai pihak agar kembali pada kithah humaniora, bahwa manusia bukan objek yang harus dimiliki demi kepentingan apa pun, tapi tempatkanlah sebagai bagian dari semesta, yang ikut berkembang selaras dengan alam dan tidak mengobrak-abrik alam untuk kepentingan sendiri.”

Manusia Berdimensi

Dijelaskan lebih lanjut, manusia sebagai bagian dari alam semesta bukanlah aset seperti pandangan organisasi, melainkan manusia yang utuh, yang memiliki berbagai dimensi, seperti dimensi fisik, biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual.

“Dalam era sekarang, pengukuran psikologis saja dianggap kurang memadai, sehingga untuk posisi tertentu dalam organisasi, seorang calon akan dinilai secara keseluruhan sejauh memungkinkan, yang dilakukan melalui assesment centre,” ujar lulusan S-3 Jurusan Teknik dan Manajemen Industri ITB itu.

“Pengelolaan manusia dengan paradigma baru menghendaki organisasi benar-benar memperlakukan manusia sebagaimana adanya, dan mengembangkan potensi-potensinya agar dapat berkarya dengan baik dalam organisasi, baik untuk kemajuan organisasi maupun untuk perkembangan pribadinya,” tambah pria kelahiran Surabaya, 17 Januari 1966 itu.

Fendy menyadari, mengajak orang untuk memposisikan manusia tidak sebagai aset yang dimiliki tapi sebagai individu yang memiliki “dunia” adalah pekerjaan yang sulit, bahkan untuk tataran kognitif saja. Hal ini dikarenakan sudah sangat melekatnya konsep “manusia sebagai aset” di berbagai organisasi dan perusahaan.

Langkah pertama yang perlu dilakukan, menurut Fendy, organisasi harus menerapkan pendekatan bottom up, yakni lebih mengedepankan peran karyawan atau manusia-manusia di dalam organisasi. Namun diingatkan, dengan pendekatan ini, perubahan paradigma dan perilaku itu pada akhirnya berpulang pada diri karyawan sendiri.

“Ciri utama dari bottom-up adalah menumbuhkan adanya kebutuhan pada diri karyawan akan pentingnya harkat dan martabat manusia. Karyawan harus sadar, selama mereka diperlakukan sebagai “aset”, mereka hanyalah alat produksi bagi penguasa organisasi untuk mencapai tujuan. Peran mereka akan selesai begitu tujuan organisasi telah dicapai.”

Tags: ,