Manajemen Pengetahuan Tingkatkan Nilai Organisasi

Seiring dengan makin berlalunya generasi Baby Boomer yang berangsur-angsur memasuki masa pensiun di tengah situasi kelangkaan talent, diperlukan langkah-langkah nyata dari perusahan untuk memastikan bahwa pengetahuan penting yang mereka miliki tidak ikut “pensiun”.

Dalam catatan lembaga rekruter online Monster di Amerika Serikat, lebih dari 25% dari populasi pekerja sekarang akan pensiun pada 2010 nanti. Namun, survei terbaru yang mereka lakukan menemukan bahwa hanya 1 dari 5 perusahaan yang memiliki strategi formal untuk mempertahankan pengetahuan dan pengalaman penting dari karyawan generasi tua tersebut, dan menstrasfernya ke karyawan yang lebih muda.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, hanya 12% manajer HR yang melihat retensi pengetahuan sebagai prioritas tinggi dalam organisasi mereka. Kendati demikian, sepertiga dari mereka menyadari bahwa 20% atau lebih dari tenaga kerja sedang menuju masa pensiun dalam tahun-tahun ke depan.

“Ketika pengetahuan secara institusional semakin dianggap sebagai aset yang paling berharga dari organisasi, studi kami menemukan banyak perusahaan tidak memiliki proses untuk melindungi dan menyebarkan kembali informasi penting tersebut,” ujar VP Riset pada Monster Jesse Harriott.

“Menjembatani kesenjangan tersebut akan menghasilkan kesempatan penting bagi perusahaan untuk mendapatkan marjin kompetitif dalam ekonomi global saat ini, di mana pengetahuan semakin menjadi sumber utama untuk nilai tambah,” sambung dia.

Studi ini menyimpulkan, kalangan petinggi HR mungkin sebenarnya menyadari adanya potensi kehilangan pengetahuan secara institusional seiring mundurnya karyawan dari generasi tua. Namun, mereka dihadapkan pada banyak kendala untuk menciptakan strategi yang bisa membantu mengatasi isu tersebut.

Salah satu kendalanya, banyak pemimpin perusahaan yang menganggap turnover karyawan sebagai ancaman yang lebih besar (dalam menghilangkan pengetahuan organisasional) ketimbang pensiun. Sebab, kenyataannya memang, kalangan karyawan muda yang pindah kerja tidak hanya berarti membawa pergi pengetahuan yang dimilikinya, tapi juga kemudian memberikannya kepada perusahaan pesaing.

Berkaitan dengan perilaku tersebut, sepertiga perusahaan yang mengatakan bahwa karyawan dihargai atau didorong untuk berbagi pengetahuan organisasional satu sama lain.

“Pengetahuan dianggap sebagai sumber utama kekuatan internal, sehingga karyawan sering berpikir bahwa membaginya kepada yang lain akan mengurangi nilai lebih mereka dalam organisasi,” ujar Jesse Harriott. “Padahal, sebenarnya justru sebaliknya. Oleh karenanya, pemimpin perusahaan harus berusaha keras untuk menjadikan sharing informasi sebagai bagian dari budaya perusahaan,” tambah dia menyarankan.

Usaha lainnya adalah dengan membuka seluas-luasnya akses karyawan terhadap teknologi memanfaatkan blog, wikipedia dan sebagainya untuk menyebarkan pengetahuan secara organisasional.

“Perusahaan yang secara agresif mengelola dan melindungi pengetahuan mereka berarti siap meningkatkan nilai mereka sebagai organisasi,” simpul Harriot.

Tags: