Lebih Dekat dengan HR Director Forum

Sepagi itu jalanan di ibukota belum terlalu padat kendaraan. Jam masih menunjukkan angka 06.57. Dengan penuh semangat kami melangkahkan kaki masuk ke Gedung World Trade Center, Jakarta, memencet lift menuju lantai 18, tempat Merchantile Club berada.

Sapaan hangat keluar dari bibir Didik Kunthadi, senior advisor PT Aneka Tambang Tbk didampingi oleh Achirina, Director Strategy, Business Development & Risk Management Garuda Indonesia, serta Wiwik Wahyuni, HR Director PT Arnott’s Indonesia ketika kami datang mendekat di meja tempat sarapan sekaligus untuk diskusi. Hampir bersamaan datang menyusul di belakang kami adalah Effendi Ibnoe, Director, Human Capital Strategy & Solutions, Bakrie & Brothers Services.

Jus semangka, roti oles, lontong sayur, teh hangat dan secangkir kopi, menjadi teman asyik kami mengobrol. Ya, sepagi itu kami team dari portalHR mendapat kehormatan untuk bisa berbincang-bincang santai bersama komunitas Human Resources (HR) Director Forum.

Sembari mengunyah makanan atau terkadang menyeruput minuman, Didik yang di Human Resources (HR) Director Forum didapuk sebagai ketuanya menceritakan ihwal berdirinya grup yang sudah cukup lama ini. Didik pun bercerita bahwa grup ini dulunya bernama Human Resources (HR) Group, sebelum tahun 1990.

“Saya sendiri sejak 1992, diminta oleh Pak Robby Sugiharto, ex-IBM, untuk menangani group ini. Waktu itu saya masih aktif bekerja di perusahaan minyak,” kenang Didik sambil menyebutkan sejak dari awal berdiri hingga sampai sekarang ini, keanggotaan grup ini bersifat terbatas, dan hanya orang-orang tertentu dari perusahaan multinasional. “Sebenarnya kita tidak hanya melulu melihat dari perusahaannya, namun juga siapa yang menangani di bagian HR-nya,” buru-buru Didik menambahkan begitu melihat kami mengernyitkan alis tanda banyak pertanyaan yang melintas di kepala.

Didik lantas menjelaskan sistem keanggotaan grup. “Kalau saja perusahaannya besar namun individunya kurang bisa memberikan manfaat, masukan maupun kontribusi lainnya kepada grup, kita tidak akan pilih,” ujarnya. Apalagi, lanjut Didik, keputusan untuk menyetujui atau tidak anggota baru akan ditentukan oleh semua anggota grup, bukan oleh seseorang. “Anggota boleh saja membawa calon anggota, tapi proses selanjutnya akan dibahas di rapat dan di rapat itulah akan diputuskan,” kata Didik lagi.

Maksud dan tujuan grup ini sendiri, terang Didik, awalnya diniatkan sebagai wadah exchange best practices. “Tujuannya tentu agar masing-masing anggota bisa menjalankan tugas-tugas HR secara baik di tempat kerja. Di samping itu, melalui grup ini kami juga ingin meningkatkan profesionalisme profesi di bidang HR, apalagi pada waktu itu yang namanya HR belum ada sekolahnya, bahkan sampai sekarang pun masih jarang khan?,” katanya dengan nada bertanya.

Di awal-awal berdirinya grup ini, anggota hanya berjumlah 10 orang. “Sengaja kami batasi dulu, karena kalau tidak dibatasi sebenarnya banyak sekali yang akan bergabung. Meski pun begitu, kita tetap mempertimbangkan industri-industri apa yang belum ada,” lanjut Didik sambil menyebut saat ini sudah ada perwakilan dari industri farmasi, banking, manufaktur, tambang, minyak, dan beberapa industri lainnya.

Seiring dengan makin meningkatnya anggota, mulai Maret 2011 silam, grup ini atas persetujuan anggota berubah nama menjadi Human Resources (HR) Director Forum, karena memang anggotanya adalah para HR Director, yang bisa langsung membuat dan mengambil keputusan. Saat ini sudah ada 25-an perusahaan sebagai anggota, sedangkan individunya bisa mencapai 30-an orang.

“Ada memang perusahaan yang mengirim dua anggota, di samping itu kita juga mempertahankan anggota misalnya dulu sewaktu bergabung mewakili perusahaan multinasional namun sekarang pindah di perusahaan nasional. Dalam hal ini, kembali yang kita lihat bukan hanya perusahaan, tapi balik lagi ke individu yang bersangkutan. Akan sangat sayang kalau ilmunya tidak kita serap. Ini tentu erat kaitannya dengan komitmen bersama kami, yakni mendevelop the young HR profesional,” jelas Didik.

Belakangan, masih menurut Didik, keanggotaan grup melebar ke BUMN juga, di mana saat ini sudah ada dua BUMN, yakni Garuda Indonesia dan Aneka Tambang. “Kenapa kita mengundang BUMN, karena misalnya di Garuda itu apa saja sih praktik HR-nya yang bisa dipelajari dan bisa diterapkan di perusahaan multinasional. Sebaliknya, buat BUMN juga berpikir, pelajaran apa dari perusahaan multinasional yang cocok untuk diimplementasikan,” ujarnya.

Saat ini sudah banyak improvement yang dilakukan dari beragam program-program yang ada di grup, salah satunya adalah sertifikasi HR. “Di samping itu, kita juga meminta kepada seluruh anggota untuk bicara di forum-forum, yang secara tidak langsung hal ini bisa menambah citra grup, di samping bagian dari sumbangsih grup kepada para praktisi HR di tanah air. Kita bangga memiliki anggota semacam bu Achirina, pak Effendi Ibnoe, dan pak Josef Bataona yang cukup aktif membagikan ilmunya di berbagai workshop, seminar-seminar, maupun sharing tentang HR di berbagai tempat.

Bagi Wiwik Wahyuni, ikut terlibat di grup ini merupakan hal yang tak pernah ia lupakan. “Saya masih ingat 17 tahun yang lalu saat bergabung di grup ini saya masih sangat muda. Waktu itu saya mewakili Dupont. Salah satu manfaat yang saya dapatkan, sedari awal saya merasa bahwa sharing by network itu powerfull sekali. Apa yang diperbincangkan di grup ini merupakan data paling akurat. Memang sering kita mendapatkan data dari konsultan yang biasanya merupakan data umum, nah di forum ini berbeda sekali karena trust level-nya sangat tinggi. Kita bisa sharing apa saja yang menurut ukuran perusahaan bersifat confidential, tapi karena tingkat kepercayaan yang tinggi itu tadi, apa yang kita sharing-kan, yakin sekali bisa dijaga,” tuturnya.

Contoh kecil, ketika ada pembahasan tentang salary increase di perusahaan. Kalau konsultan bilang naik 10%, lanjut Wiwik, manajemen bisa saja skeptis dengan dalih itu data dari mana, atau data tersebut diambil dari perusahaan apa, tapi kalau suaranya berasal dari sesama grup, ini merupakan data yang real di lapangan.

“Secara pribadi, saya tumbuh bersama grup ini cukup lama, saya banyak belajar dari para anggota senior. Bahkan setelah lama saya meninggalkan Indonesia untuk tugas di luar negeri, begitu saya kembali, saya masih disambut antusias oleh anggota dan inilah yang menguatkan bahwa saya tidak sendiri. Meskipun saya kurang mengikuti environment di tanah air, saya tetap mendapat dukungan yang besar dari teman-teman. Pada akhirnya, melalui grup ini saya mendapatkan informasi yang saya butuhkan kembali dengan sangat cepat,” aku Wiwik lagi.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Achirina. “Saya mendapat banyak ilmu dari teman-teman di grup, yang mana ini jelas memudahkan ketika saya coba implementasikan di perusahaan tempat saya bekerja. Saya bisa bandingkan bagaimana HR yang dijalankan di BUMN lainnya maupun di perusahaan multinasional, apa saja hal-hal positif yang bisa saya adopsi. Hal lain yang sangat membantu adalah ketika kita mendapat permasalahan. Kita bisa bawa masalah ini dan oleh teman-teman akan dibahas hingga didapatkan solusi-solusi apa saja yang bisa diambil. Tidak jarang, kita bisa mendapatkan advise secara instan. Banyak pembelajaran di grup ini yang bisa saya rasakan,” tukas Achirina. (rudi@portalhr.com dan team @portalhr)

 

Tags: