Krisis Talent Ancam Asia-Pasifik

Banyak pengusaha di kawasan Asia-Pasifik saat ini berada dalam risiko kehilangan talent terbaik yang mereka miliki. Kekecewaan atas prospek-prospek karir dan gaya manajemen perusahaan mendorong para talent itu mencari kesempatan-kesempatan di tempat lain.

Survei yang dilakukan atas lebih dari 3000 karyawan oleh lembaga riset dan konsultasi ISR menemukan sejumlah sinyal yang menunjukkan rendahnya tingkat keterikatan karyawan, komitmen dan motivasi di Australia, China, Malaysia, Singapura dan Thailand. Separo dari mereka di samping kecewa juga sepenuhnya merasa tak terikat dengan perusahaan.

Sambil melukiskan kekecewaan karyawan itu sebagai “talent-dalam-risiko”, survei tersebut menemukan bahwa situasi terburuk terjadi di Malaysia, di mana hampir separo (47%) karyawan mengatakan, mereka tidak lagi commit untuk terus bekerja di perusahaan mereka.

Masih di lokasi yang sama, 7 dari 10 mengatakan akan meninggalkan perusahaan tempat kerja mereka sekarang sesegera setelah mendapatkan alternatif pekerjaan yang memadai. Selebihnya, 17% mengaku ingin keluar dari pekerjaannya tapi tidak bisa karena kondisi pasar tenaga kerja.

Situasi di Singapura tak jauh berbeda, dengan 4 dari 10 karyawan paling berbakat tergolong dalam “talent-at-risk”, dan 8 dari 10 mengatakan akan meninggalkan pekerjaan mereka secepat mereka bisa.

Sedangkan di Australia, Thailand dan China rata-rata sepertiga talent yang ada di perusahaan tergolong “dalam risiko”. Dalam hal ini, China mencatatkan angka terbesar dalam hal “talent tak termotivasi atau tak commit untuk terus tinggal di perusahaan mereka” dengan hampir 19% karyawan terbaik sepenuhnya merasa tak terikat dengan perusahaan.

Gejala tersebut menimbulkan pertanyaan, faktor-faktor apa yang mendorong banyaknya karyawan terbaik di Asia-Pasifik mempertimbangkan untuk keluar dari perusahaan mereka sekarang?

Menurut peneliti dan konsultan dari ISR Yves Duhaldeborde, gaya manajemen yang diterapkan organisasi merupakan faktor terpenting bagi karyawan terbaik untuk memutuskan tetap tinggal atau pergi. Dan, lebih banyak orang cenderung memutuskan untuk pergi jika gaya manajemen perusahaan kurang menguntungkan, memerintah dan reaktif.

Lebih jauh, para karyawan yang tergolong paling berbakat berharap para pemimpin menciptakan lingkungan yang mendorong orang untuk bisa terus-menerus belajar, memperlakukan semua karyawan dengan penghargaan dan membuat keputusan yang konsisten dengan nilai-nilai organisasi.

Dikatakan juga, karyawan berbakat merasa betah berada dalam organisasi yang fokus pada keberhasilan jangka panjang. Mereka juga lebih suka bekerja pada perusahaan-perusahaan yang memiliki rencana suksesi formal dan program-program talent management.

“Penelitian ini bisa menjadi peringatan bagi perusahaan-perusahaan di Asia-Pasifik,” kata Duhaldeborde. “Risiko kehilangan staf paling berbakat merupakan masalah yang serius dan mendesak untuk diatasi. Perusahaan perlu mempertimbangkan langkah-langkah penciptaan lingkungan yang lebih memberi kepastian bahwa ambisi-ambisi jangka panjang dari talent terbaik mereka bisa terwujud.”

Tags: