Kerja dari Rumah Mulai Diragukan Efektivitasnya

Jika Anda benar-benar sudah capek pulang-balik Jakarta-Bekasi dengan kereta api yang penuh sesak, atau bosan dengan kemacetan lalu lintas jalan raya setiap pagi, mungkin Anda makin berangan-angan bisa mewujudkan mimpi untuk bekerja dari rumah. Namun, benarkah itu akan lebih membantu?

Tren bekerja dari rumah yang terus meningkat terutama di Amerika Serikat dan Eropa, kini mulai diragukan ‘nilai’ fleksibilitasnya. Realitasnya, ternyata bekerja dari rumah tidak membuat waktu santai kita lebih banyak, termasuk waktu untuk keluarga.

Sebuah survei yang dilakukan di Inggris mengungkapkan bahwa kaum pengusaha yang menyediakan pilihan bagi karyawannya untuk bekerja dari rumah terus meningkat. Diperkirakan, 46% dari pelaku bisnis kini mengizinkan karyawan mereka bekerja dari rumah –melonjak 3 kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Namun, survei yang melibatkan 1400 karyawan yang dilakukan oleh perusahaan operator mobile phone Orange tersebut menyimpulkan, keuntungan yang didapat dari "flexible working" tidak sama bagi setiap orang.

Faktanya, bekerja dari rumah atau pola kerja yang fleksibel lainnya tidak hanya menghambat perkembangan karier dan menyebabkan pemotongan pendapatan. Melainkan juga, 4 dari 10 responden mengaku bekerja di rumah ujung-ujungnya malah repot; tidak bisa menikmati waktu santai lebih banyak seperti yang dibayangkan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarga.

Di samping itu, sekitar 45% mengeluh bahwa "flexible working" justru berarti "bekerja lebih banyak", karena mereka juga harus tetap bekerja pada waktu-waktu luang, seperti pada malam hari atau pun akhir pekan.

Direktur Komunikasi Orange Business Services Robert Ainger mengatakan, ada kesenjangan antara persepsi dan kenyataan ketika orang berbicara tentang kerja yang fleksibel. "Tantangan utamanya tak lain bagaimana ide-ide tentang efektivitas itu didefinisikan kembali," kata dia.

"Menjadi yang nomor satu atau nomor buncit di kantor tidak bisa lagi diukur dari komitmen dan produktivitas seseorang, dan mengelola tenaga kerja yang fleksibel akan berarti tidak mengkhawatirkan bagaimana karyawan bekerja dan tentang apa yang mereka hasilkan," tambah Ainger.

Sikap karyawan sendiri terhadap kerja dari rumah masih mendua. Di satu sisi, mereka menyebut "bisa bekerja lebih fleksibel" sebagai faktor penting dalam memilih pekerjaan. Namun, di sisi lain, pada saat yang sama mereka takut bahwa absen dari kantor bisa menghambat karir mereka.

Di Inggris, populasi pekerja jarak jauh terus meningkat sejak 1997, dari sekitar 4% menjadi 8% pada survei 2005.