Karyawan Tak Produktif, Perusahaan Salahkan Alkohol

Empat dari 10 perusahaan percaya bahwa penyalahgunaan alkohol merupakan penyebab yang utama dari ketidakhadiran karyawan di kantor dan hilangnya produktivitas mereka.

Hal itu merupakan kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) di Inggris.

Selain itu, sepertiga organisasi juga menyebut penyalahgunaan ‘drug’ menyebabkan pengaruh yang sama negatifnya di tempat kerja.

Namun, meskipun pengaruh ‘drug’ dan alkohol merusak di tempat kerja, hampir separo dari 500 organisasi yang disurvei tidak memiliki kebijakan untuk membantu karyawan yang menghadapi masalah tersebut.

Diperkirakan, 14 ribu hari kerja hilang setiap tahun disebabkan oleh masalah-masalah yang terkait dengan alkohol. Belum lagi, masih ada lagi biaya yang harus ditanggung oleh industri akibat masalah yang sama.

Menurut survei tersebut, perusahaan semestinya bisa berbuat lebih untuk membantu karyawan terbebas dari masalah alkohol. Namun, temuannya, hanya 38% dari mereka yang menyediakan koordinasi bantuan rehabilitasi untuk individu yang mengalami ketergantungan obat dan alkohol.

Dan, hanya separo dari perusahaan yang menyediakan akses untuk konseling atau layanan-layanan kesehatan bagi karyawan yang berjuang melawan masalah minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Pada organisasi yang membantu merujuk karyawan bermasalah ke program pemulihan atau memberi mereka dukungan rehabilitasi, lebih dari 60% bisa kembali bekerja setelah sukses menjalani masa perawatan itu.

Konsultan masalah hubungan karyawan pada CIPD Ben Willmott yang juga menuliskan laporan penelitian itu mengatakan, “Membantu karyawan yang bermasalah dengan drug dan alkohol memiliki tingkat sukses yang membuat mereka bisa kembali bekerja untuk perusahaan.”

“Namun, organisasi harus menyakinkan karyawan akan adanya kebijakan dan dukungan tersebut agar mereka percaya diri untuk mengakui bahwa mereka punya masalah dan memerlukan bantuan.”

Tags: ,