Karyawan Rela Potong Gaji Selama Resesi

Dalam situasi ekonomi yang sedang sulit, perusahaan menempuh berbagai upaya untuk bisa bertahan. Salah satunya memotong gaji dan memangkas jam kerja, termasuk mengurangi libur. Ini memang bukan langkah yang populer tapi menurut survei, karyawan ternyata bersedia menerima demi kelangsungan hidup perusahaan.

Dua pertiga karyawan dilaporkan akan menerima kebijakan pemotongan gaji, pengurangan jam kerja dan hari libur untuk membantu perusahaan berhasil melewati masa krisis, demikian hasil survei yang dilakukan oleh raksasa komunikasi Orange di Inggris.

Selain itu survei juga menemukan bahwa 62% karyawan yang bekerja di perusahaan dengan jumlah staf lebih dari 1000 orang akan siap untuk kerja fleksibel agar perusahaan bertahan selama resesi.

Survei dilakukan atas 1.179 karyawan dan ditemukan bahwa 71% dari mereka mengaku bangga dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Dan, 60% mengatakan bahwa pekerjaan mereka –dibanding pekerjaan lain– mendorong untuk produktif di kantor.

Hasil-hasil survei tersebut seolah mendukung apa yang telah dilakukan oleh sejumlah perusahaan sebelumnya. Honda, Nissa dan Jaguar Land Rover sebelumnya telah meminta karyawan mereka untuk mempertimbangkan pekan kerja yang dipersingkat untuk penghematan selama resesi.

Jaguan Land Rover misalnya, mendapatkan persetujuan dari karyawannya untuk mengurangi pekan kerja dan “membekukan” setahun gaji untuk menghindari PHK, menyusul turunnya angka penjualan akibat krisis.

Hal yang hampir sama dilakukan oleh firma akuntansi besar KPMG dengan menerapkan skema baru flexible working untuk menyelamatkan perusahaan. Dan, 80% dari 11 ribu karyawan KPMG menyambut gembira perubahan hari kerja menjadi 4 hari sepekan yang disertai pemotongan gaji.

Tags: