Karyawan di Asia dan Eropa Kurang Bahagia

Meskipun memiliki budaya kerja dan harapan-harapan yang berbeda, karyawan di Asia dan Eropa memiliki kesamaan dalam hal ketidakpuasan terhadap pekerjaan mereka, dibandingkan dengan karyawan di Amerika. Namun, survei juga menemukan adanya kesenjangan kepuasan antargenerasi karyawan di Amerika. Dimana, karyawan dari generasi yang lebih muda jauh kurang puas dibandingkan dengan karyawan generasi lebih tua.

Survei yang dilakukan terhadap hampir 4.500 karyawan di empat benua oleh perusahaan konsultan tempat kerja BlessingWhite itu mengidentifikasi perbedaan-perbedaan yang tajam dalam loyalitas karyawan terhadap perusahaan di seluruh dunia. Secara umum, 6 dari 10 karyawan “memastikan” akan tetap bekerja di perusahaan yang sekarang sampai tahun-tahun mendatang. Lebih dari sepertiga mengatakan “mungkin” bertahan, dan 8% mengisyaratkan “no way” untuk tetap tinggal di perusahaan yang sama.

Lebih spesifik, survei menemukan perbedaan-perbedaan antarkawasan. Karyawan di Eropa dan Asia mengaku kurang puas dengan perusahaan tempat mereka bekerja saat ini, dibandingkan dengan karyawan di Amerika atau pun Kanada. Kurang dari separo karyawan Eropa dan 54% karyawan di Asia-Pacifik yang mengaku masih akan setia dengan perusahaan tempat mereka bekerja sekarang. Proporsi tersebut berbanding dengan 6 dari 10 pada karyawan di Amerika.

Temuan pada tingkat regional tersebut, menurut CEO BlessingWhite Christopher Rice, bisa ditafsirkan secara positif. “Tampaknya makin banyak orang menyadari pentingnya mengontrol tujuan karir mereka, dan merencanakan untuk lebih mengelolanya,” ujar dia.
Namun, pada sisi lain Rice juga tak menutup kemungkinan bahwa gejala disengagement yang ditemukan di Eropa dan Asia tersebut merefleksikan pesimisme terhadap kondisi ekonomi global yang tak menentu. “Dan, itu artinya para pimpinan perusahaan juga perlu menyadarinya,” tambah dia.

Lebih jauh Rice mengingatkan, pada dasarnya, dalam berbagai situasi ekonomi, karyawan yang berkualitas memang cenderung mobile.”Orang setia terhadap perusahaan tidak selalu karena uang dan benefit. Kami menemukan bahwa para top performer di mana-mana sama,” jelas dia. “Jika manajemen tidak memberi karyawan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda bagi perusahaan, mengikat mereka dengan pekerjaan yang menarik dan memfasilitasi pengembangan pribadi mereka, individu-individu yang sama tadi akan membawa pergi pengetahuan dan skill mereka ke tempat lain.”

Rice berpendapat, pucuk manajemen harus mengakomodasi isu-isu engagement secara menyeluruh. Tujuannya tak lain untuk meminimalisasi turnover yang tak diinginkan dan mempertahankan karyawan-karyawan terbaik.

Krisis Loyalitas

Secara terpisah, sebuah survei yang dilakukan Workplace Options atas 700 karyawan di Amerika menemukan adanya krisis loyalitas di negeri itu. Hanya 4 dari 10 karyawan usia 26 tahun ke bawah yang mengaku “sangat puas” dengan pekerjaan mereka. Sementara, di kalangan karyawan yang lebih tua (66 tahun ke atas) ditemukan hampir dua kali lipat prosentasenya.

“Bukan rahasia lagi bahwa kepuasan kerja sebagian besar dipengaruhi keseimbangan antara hidup dan kerja, tapi ini kan tidak berlaku bagi semua kalangan. Generasi yang lebih muda selalu merasa kurang dalam hal itu sementara generasi tua mungkin lebih mementingkan benefit,” papar Presiden Workplace Options Alan King. Terlepas dari itu King mengingatkan, sekali telah meng-hire orang, bagaimana pun para pimpinan perusahaan perlu bersungguh-sungguh untuk mempertahankan mereka agar terus terikat, produktif dan bahagia.

Tags: