Karyawan Berbakat Makin Kuat

Zaman ketika seorang karyawan berterima kasih pada perusahaan atas pekerjaan yang telah diberikannya, telah (lama) lewat. Kini, karyawan berbakat menyadari bahwa keberadaan mereka langka dan senantiasa mempersiapkan diri untuk pindah kerja, mencari karir yang lebih menjanjikan.

Survei gaji tahunan yang dilakukan oleh lembaga rekruter Robert Half International dan CareerBuilder.com di Amerika Serikat menemukan, tidak ada tanda-tanda bahwa “war for talent” di dunia usaha segera mereda.

Di atas kertas, 6 dari 10 manajer hiring mengeluhkan sulitnya menemukan orang yang memenuhi kualifikasi untuk pekerjaan yang dibutuhkan. Sementara, 9 dari 10 mengatakan, kondisi saat ini (masih) sama atau lebih menantang ketimbang setahun lalu.

Lebih dari separo dari mereka yang sedang berjuang mengisi lowongan di perusahaannya mengatakan, problem utama adalah kelangkaan tenaga profesional yang berkualitas.

Sebaliknya, dari survei atas 1000 pekerja dan 900 pengusaha terungkap bahwa pencari kerja yang berbakat semakin menyukai fakta bahwa mereka langka. Hampir 6 dari 10 mengatakan, mereka kini semakin memiliki posisi yang baik untuk bernegosiasi soal paket kompensasi dibandingkan 12 bulan yang lalu.

Survei juga memperlihatkan betapa persaingan memperebutkan talent berjalan intensif dalam dua tahun terakhir.

Paling Sulit

Tenaga profesional dan staf yang bersifat teknik tercatat paling sulit didapatkan, dengan 4 dari 10 mengaku berjuang menemukan kandidat yang tepat untuk posisi tersebut.

Hampir seperlima atau 17% melaporkan kesulitan mengisi kekosongan direktur, manajer, supervisor dan posisi-posisi pimpinan tim.

“Hasil-hasil survei sejak 2005 memperlihatkan peningkatan persaingan pasar kerja untuk level tenaga profesional dan posisi-posisi yang membutuhkan keterampilan tinggi.” ujar CEO Robert Half International Max Messmer

“Untuk rekrutmen yang sukses, perusahaan harus “menjual” benefit apa yang akan didapat oleh aplikan jika bergabung dengan perusahan mereka. Organisasi yang bisa mempromosikan aspek-aspek positif dan unik dari budaya perusahaan mereka kepada calon karyawan, memiliki keunggulan penting atas pesaing mereka,” tambah dia.

Lebih Percaya Diri

Kaum pekerja juga lebih percaya diri dalam proses negosiasi pekerjaan. Lebih dari separo karyawan yang disurvei melaporkan, kompensasi mereka meningkat dalam 12 bulan terakhir. Di samping itu, hampir 6 dari 10 mengatakan, mereka akan menegosiasikan kompensasi yang lebih tinggi jika menerima pekerjaan baru.

“Ini zaman di mana pasar (tenaga kerja) dikendalikan oleh karyawan sehingga kekuatan negosiasi bergeser,” ujar CEO CareerBuilder.com Matt Ferguson.

“Pekerja menjadi lebih agresif dalam permintaan atas kompensasi dan benefit, baik kepada perusahaan tempat mereka bekerja sekarang maupun kepada perusahaan yang menawari mereka pekerjaan baru,” tambah dia.

Namun, Fergusson mengingatkan satu hal penting, bahwa uang kemungkinan hanya menyenangkan bagi karyawan untuk sementara. Sedangkan, yang lebih membuat mereka betah bekerja dalam waktu lama adalah keseluruhan budaya kerja, pengakuan pada kontribusi personal dan kesempatan karir.

Survei menunjukkan, dalam setahun terakhir, hampir sepertiga perusahaan menerapkan kebijakan-kebijakan dan program-program baru untuk mempertinggi tingkat retensi karyawan.

Yang paling banyak dilakukan adalah memberikan bonus (23%), disusul kemudian menaikkan gaji (16%), memperbaiki lingkungan kerja (15%) dan menyediakan jalur karir yang lebih jelas (10%).

Dari pihak karyawan, mereka memilih pekerjaan tertentu dengan pertimbangan utama antara lain jadwal yang fleksibel (65%) dan kesempatan untuk bekerja jarak jauh (33 %).

Tags: