Karyawan Amerika Paling Produktif

Sebuah laporan penelitian baru menyatakan, karyawan Amerika menghasilkan kemakmuran perkapita lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Tapi, mereka harus membayarnya dengan harga mahal untuk kerja keras itu, yakni tingkat stres yang lebih tinggi dan minimnya waktu untuk kehidupan pribadi.

Dirilis oleh Organisasi Buruh Sedunia (ILO) yang berkantor pusat di Genewa, survei tersebut menemukan bahwa Amerika masih memimpin dunia dalam produktivitas, dan karyawan di negara itu bekerja lebih panjang dibandingkan dengan negara-negara lain dalam upaya untuk mencapai produktivitas tinggi tersebut.

Menurut edisi ke-5 Indikator-indikator Utama Pasar Tenaga Kerja, rata-rata karyawan Amerika mampu memberi nilai tambah tahunan sebesar 63.885 dolar AS terhadap ekonomi negara, berbanding dengan 55.986 dolar AS untuk karyawan Irlandia, 55.641 dolar AS karyawan Luxemberg dan 55.235 dolar AS karyawan Belgia.

Karyawan Amerika juga bekerja lebih panjang per tahunnya dibandingkan karyawan di negara-negara maju lainnya. Tapi, ketika diukur nilai tambahnya per jam, karyawan Norwegia menempati peringkat pertama dalam tingkat produktivitas, yakni 37.99 dolar AS per jam, disusul Amerika pada tingkat 35.63 dolar AS dan Prancis pada 35.08 dolar AS.

Rata-rata karyawan Amerika bekerja 1.804 jam sepanjang 2006 lalu, berbanding dengan 1.564 jam untuk Prancis dan 1.407 untuk Norwegia.

“Salah satu alasan untuk perbedaan itu adalah karena orang Eropa libur lebih banyak pertahunnya, yakni 4 sampai 6 minggu, dibandingkan orang Amerika,” ujar Kepala ILO bidang ketenagakerjaan Lawrence Jeff Johnson.

Dikatakan pula, tenaga kerja Amerika terkenal terlatih dengan baik dan sangat adaptif sehingga mampu mengungguli produktivitas orang Eropa.

Secara umum dilaporkan bahwa produktivitas di berbagai negara cenderung meningkat. Tapi, pada sisi lain Johnson juga melihat tren yang menggembirakan tersebut hanyalah awal dari jalan panjang setiap negara untuk meningkatkan standar hidup kaum pekerjanya.

“Kita tahu ada 1,3 miliar orang di dunia saat ini yang tidak mampu mendapatkan sedikitnya dua dolar per hari untuk diri sendiri dan keluarga,” ujar Johnson.

Tags: ,