Internet di Kantor Timbulkan Banyak Konsekuensi Negatif

Berbagai kejadian tak mengenakkan muncul di tempat kerja dewasa ini sebagai dampak dari penggunaan internet oleh karyawan.

Di Inggris, dewan kota setempat, Porstmouth City Council memblokir Facebook karena dinilai telah membuat 4.500 orang staf dewa kota kecanduan dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan sibuk bermain di situs jejaring sosial tersebut ketimbang bekerja.

Dewan kota menengarai, staf mereka telah menghabiskan waktu untuk Facebook-an sebanyak 572 jam 38 menit. Angka tersebut setara dengan 71 hari kerja. Sedangkan, rata-rata mereka mengakses Facebook adalah selama 413 jam per bulan.

Selain tentu saja mengganggu produktivitas kerja, kebiasaan itu juga dinilai menghambur-hamburkan uang kantor. “Ini adalah angka yang cukup besar untuk jam kerja dan uang pun terbuang sia-sia,” ujar Mark Wallace dari Taxpayer Alliance seperti dilaporkan DailyMail awal pekan ini.

Sebelum adanya pemblokiran, para staf hanya diperbolehkan mengakses Facebook, Twitter atau MySpace saat istirahat atau sehabis jam kerja. Namun, kebijakan itu tidak berjalan seperti harapan. Para staf masih mencuri-curi waktu untuk tetap bisa eksis di Facebook saat jam-jam produktif.

Kendati telah diblokir, staf masih bisa mengajukan permohonan untuk mengakses Facebook kembali jika bisa membuktikan bahwa hal itu berkaitan dengan pekerjaan.
Selain situs jejaring sosial, penggunaan email sampai hari ini juga masih menimbulkan masalah. Dari Ulster County, AS dilaporkan, gara-gara gemar saling berkirim email porno, empat orang karyawan di kantor kejaksaan wilayah terkena tindakan indisipliner.

Pejabat setempat, Michael Hein menyatakan, investigasi yang dilakukan membuktikan para pegawai tersebut sering menyebar email dengan konten cabul via internet kantor. Meskipun tidak ada unsur pelanggaran hukum, namun memakai fasilitas pemerintah untuk sesuatu yang porno dinilai melanggar aturan.

“Kami menangani isu ini dengan sangat serius. Saya tidak akan mentolerir tindakan tersebut dan juga kelakuan buruk lainnya,” tukas Hein seperti dilansir DailyFreeman. Keempat karyawan telah diskors, namun tidak dijelaskan berapa lama mereka akan menjalani hukuman tersebut. Banyak pejabat setempat mengutarakan keprihatinan terkait masalah tersebut.

Dipecat

Kejadian lain berkaitan dengan penggunaan internet di kantor, terjadi di Selandia Baru. Seorang karyawan kantor akuntansi dipecat gara-gara mengirim email dengan guruf kapital.Namun, karena pemecatan tersebut dinilai tidak wajar, akuntan asal Auckland bernama Vicki Walker tersebut mendapatkan kompensasi senilai Rp 117 juta.

Walker dipecat karena mengirim email pada rekan kerjanya yang berisi petunjuk mengisi sebuah formulir. Untuk menekankan hal-hal yang penting, Walker mewarnai beberapa teks dalam email tersebut dengan warna biru dan merah. Sebuah kalimat pun dituliskannya dalam huruf kapital seluruhnya.

Kalimat yang menggunakan huruf besar, tebal dan berwarna biru itu berbunyi: To ensure your staff claim is processed and paid, please do follow the below checklist. Tak ada kata-kata tidak senonoh, tudingan atau pun kalimat agresif lainnya dalam email tersebut. Bahkan, boleh dibilang, email itu berusaha menekankan poin-poin tertentu agar sang penerima tidak lupa.

Namun, niat baik itu justru dianggap mengganggu kondisi mental sesama karyawan. Ia pun dituding berbuat onar di kantor dan akhirnya dipecat. Agaknya perusahaan mulai perlu mempertimbangkan adanya peraturan tertulis untuk mengantisipasi masalah-masalah “etis” yang muncul akibat penggunaan internet di tempat kerja.

Tags: ,