Industri Pertambangan Alami Kekurangan Talent

Mendapatkan tenaga terampil untuk menggantikan pekerja yang mulai menua adalah salah satu tantangan berat yang dihadapi industri pertambangan saat ini.

Untuk mempertahankan tingkat produksi saat ini, diperkirakan pada tahun 2020 di Australia saja akan dibutuhkan 58.000 tenaga terampil.

“Industri tidak cukup cepat dalam menggantikan pekerja yang pensiun,” ujar Tim Richards, leader bagian pertambangan di Deloitte Australia seperti dikutip dari HR Leader.

Meski sudah banyak yang dilakukan eksekutif pertambangan untuk menarik pekerja baru ke industri itu, seperti melakukan kerjasama dengan institusi pendidikan dan memperbanyak kesempatan bekerja sementara, aktivitas tersebut tidak banyak membantu untuk mengisi kebutuhan tenaga.

Richard menambahkan bahwa industri pertambangan di Australia telah menggeser fokusnya dari menekan biaya (cost) di tahun 2009 menjadi mencoba menyeimbangkan pertumbuhan dengan dinamika supply dan demand di tahun ini.

Meskipun industri lain mengalami masalah yang sama (dalam hal jumlah pensiun), namun industri lain memiliki cadangan tenaga terampil yang cukup untuk mengisi kekosongan. Rendahnya minat di sektor pertambangan selama beberapa dekade terakhir telah menyebabkan gap yang serius pada industri itu.

“Sementara pekerja tua memasuki masa pensiun, banyak pekerja muda yang baru tertarik pada industri ini karena melihat prospek pertumbuhannya. Di tengah-tengah itu, terjadi kekosongan manajer madya yang berpengalaman. Hal ini juga terjadi di negara-negara berkembang,” demikian seperti ditulis dalam laporan Tracking the Trends 2011: The top 10 issues mining companies face in the coming year.

Karena gap talent yang melebar, perusahaan tambang perlu lebih agresif dalam meretensi karyawan, caranya dengan melakukan engagement yang lebih baik kepada karyawan-karyawan kunci.

Tags: