Individu Negatif Rusak Kinerja Tim

Dalam setiap organisasi atau perusahaan, hampir selalu ditemukan satu orang yang memiliki sifat negatif, dan itu mengganggu anggota tim dalam berbagai segi. Kini, sebuah riset baru menemukan bahwa satu apel beracun saja sudah cukup membuat semua apel dalam keranjang membusuk.

“Apel beracun” adalah sebutan bagi orang yang tidak bisa diajak kerja sama. Atau, mereka yang selalu merasa tidak bahagia dan emosional. Termasuk juga, mereka yang suka berkata kasar, membentak atau pun menyerang orang lain. Karyawan-karyawan semacam itu merupakan virus, merusak dinamika dalam tim dan membuat organisasi tidak berjalan dengan baik.

William Felps dan Professor Terence Mitchell dari Sekolah Bisnis Universitas Washington menganalisis sekitar 24 publikasi hasil studi yang meneliti bagaimana karyawan dalam tim atau grup berinteraksi, dan secara khusus tentang bagaimana (memiliki) anggota yang buruk bisa mengganggu kemajuan tim.

Hasil-hasil kerja para peneliti yang dipublikasikan di edisi terbaru Jurnal Research in Organisational Behaviour itu mengungkapkan, dari setiap kumpulan orang bisa ditemukan sedikitnya satu “apel beracun” yang menyebabkan kerusakan.

Dua ahli tersebut melihat bagaimana dalam grup-grup itu, 5 dari 15 karyawan pada sektor-sektor seperti manufaktur, fast food dan universitas terpengaruh oleh keberadaan satu anggota yang memiliki sifat negatif.

Sebagai contoh, dalam sebuah studi atas 50 tim bidang manufaktur, ditemukan bahwa tim-tim yang memiliki anggota yang mudah marah atau tidak bertanggung jawab cenderung lebih banyak mengalami konflik. Di samping itu, komunikasi antaranggota tim terhambat dan satu sama lain susah bekerja sama. Akibatnya, kinerja tim-tim tersebut menjadi buruk.

“Kebanyakan organisasi tidak memiliki cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah,” ujar Mitchell. “Perusahaan harus bergerak cepat untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut karena negatifitas dari satu individu bisa menular dan menghancurkan serta meluas dengan cepat.”

Tiga Reaksi

Menurut Felps, anggota tim bereaksi terhadap anggota yang negatif dalam tiga cara: intervensi motivasional, menolak atau bertahan. Dengan intervensi motivasional berarti individu akan menunjukkan kepedulian mereka dan meminta orang yang menjadi sumber masalah itu mengubah perilakunya. Jika usaha tersebut tidak berhasil, anggota yang negatif itu bisa diganti atau ditolak.

Jika baik intervensi maupun penolakan itu berhasil, anggota yang negatif tidak akan pernah menjadi apel beracun dan tim pun terus melaju. Dua pilihan tersebut intevensi atau menolak hanya mungkin berhasil jika anggota tim memiliki kekuatan. Jika tidak, maka justru tim akan menjadi frustrasi atau bertahan.

Mekanisme-mekanisme bertahan yang dilakukan untuk menghadapi apel beracun biasanya berupa penolakan, pengucilan, marah, gelisah dan takut. Akibatnya, kepercayaan dalam tim menipis dan grup kehilangan budaya positifnya, di mana anggota secara fisik dan psikologis saling menarik diri dari ikatan tim.

Felps dan Mitchell juga menemukan bahwa perilaku negatif bisa mengalahkan perilaku positif dalam hal ini, apel beracun bisa merusak tim tapi satu atau dua pekerja yang baik tidak bisa memperbaikinya.

“Perilaku yang baik tidak terlihat sebesar perilaku negatif,” kata Mitchell. Jadi, bagaimana perusahaan bisa menghindari gejala apel beracun itu? Menurut Felps, merekrut orang yang tepat merupakan kata kunci, dan dia menyarankan penggunaan tes kepribadian untuk melihat kestabilan emosi seseorang. Tapi, jika apel beracun itu sudah telanjur masuk, perusahaan bisa menempatkan mereka dalam posisi di mana mereka bekerja sendirian.

Tags: