HR Perlu Lebih Inovatif dan Konsisten dalam Program Reward

Berbagai program reward yang ada di perusahaan-perusahaan saat ini banyak yang minim inovasi, di samping tidak selaras dengan strategi-strategi bisnis. Departemen HR perlu menciptakan model-model yang konsisten dengan teminologi yang dipahami bersama.

Demikian kesimpulan dan rekomendasi dari sebuah survei baru yang menemukan adanya kesenjangan antara apa yang dikatakan oleh perusahaan tentang pay for performance dan apa yang secara aktual mereka lakukan berkaitan dengan hal itu. Hasilnya, program-program reward kini gagal untuk mencapai tujuan-tujuan utamanya, yakni attracting, engaging dan retaining talent.

Studi dilakukan oleh Towers Perrin atas 600 Manajer HR dan Kompensasi pada perusahaan besar dan sedang di 21 negara. Ditemukan, 73% perusahaan memiliki strategi reward yang didesain untuk meretensi karyawan, dan 57% memiliki program yang sama untuk meng-attract talent. Tapi, hanya sedikit (perusahaan) yang menerapkan taktik-taktik yang diperlukan agar strategi tersebut berjalan.

“Kalau Anda bicara pada para pemimpin senior, mereka pasti mengatakan punya model yang diperlukan untuk mengikat karyawan, tapi kami tidak melihat adanya sebuah model yang konsisten dalam organisasi. Tidak ada bahasa yang umum, tidak ada bentuk yang jelas di tingkat organisasi,” ujar Ravin Jesuthasan, managing principal dan practice leader perusahan konsultan HR yang berkantor di Stamford, AS itu.

Jesuthasan memberi ilustrasi: tanyakan pada 10 orang CEO bagaimana meningkatkan cash flow, mereka akan memberikan jawaban bagus yang sama. “Tapi, tanya pada mereka tentang performance management, maka Anda akan mendapatkan 10 jawaban yang berbeda karena tidak ada definisi umum tentang engagement yang berlaku di seluruh dunia ini,” tambah dia.

Lalu, apa yang bisa membantu untuk menciptakan “bahasa bersama” tentang reward? “Itu perlu komunikasi yang nyambung (antara karyawan dan manajemen),” ujar Jim Stoeckmann, practice leader pada WorldatWork, sebuah asosiasi profesional HR yang fokus pada total reward di Scottsdale, AS.

Stoeckmann mengatakan, organisasi kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh pemahaman atas hal-hal apa saja yang diinginkan karyawan, yang seharusnya menjadi inti dari program reward.

“Anda bisa belajar banyak dari orang-orang yang akan bergabung dengan perusahaan. Juga, tanyakan pada karyawan saat performance evaluation dan bahkan saat exit interview,” saran Stoeckmann.

Ditambahkan, HR harus menyatukan berbagai informasi itu dan melaporkannya ke manajemen senior. “HR sebagai profesi perlu menciptakan keseragaman tentang term-term yang digunakan untuk total reward dan performance management.”

Tags: