HR Makin Penting tapi Persepsi Negatif Belum Hilang

Seiring prioritas bisnis dewasa ini yang semakin fokus pada pencarian talent, posisi departemen HR belum pernah setinggi sekarang ini dalam organisasi. Namun, ironisnya, ketika kepentingan rekrutmen, retensi dan pengembangan karyawan telah “naik kelas” menjadi agenda (tingkat) korporat, persepsi (negatif) orang mengenai departemen HR belum banyak berubah.

“Posisi HR memang sulit, fungsinya kualitatif namun beroperasi dalam lingkungan yang kuantitatif,” ujar Kepala Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD), Inggris Mike McDonnell. McDonnel yang juga Presiden European Association of Personnel Management itu mengungkapkan, berbeda dengan efektivitas elemen-elemen lain dalam bisnis seperti sales, IT dan marketing yang bisa diukur berdasarkan hasil-hasilnya, aktivitas-aktivitas HR lebih sulit dikalkulasikan ROI-nya.

“Jika Anda membelanjakan seratus ribu untuk sistem baru IT, Anda tahu akan mendapatkan sekian persen efisiensi. Tapi, ceritanya akan berbeda ketika Anda membelanjakan sejumlah dana yang sama untuk program pengembangan kepemimpinan,” McDonnel memberikan ilustrasi.

Menurut McDonnell, minimnya kualifikasi profesional dalam lingkungan HR sendiri juga memperburuk keadaan, membuat orang berpikir bahwa “siapa pun bisa bekerja di bidang HR”. Oleh karenanya dia berharap, negara-negara lain menerapkan standar-standar bagi praktisi HR, seperti dilakukan Inggris dan Irlandia lewat CIPD yang dia pimpin.

HR Buruk Jadi Beban

Direktur Human Resource Consulting pada Penna, sebuah perusahaan konsultan HR, Grahame Russell mengatakan, banyak contoh HR yang buruk di sekitar kita, yang menyebabkan HR menjadi beban bagi perusahaan. “Beban yang sama juga bisa muncul dari rantai supply yang buruk atau layanan konsumen yang buruk,” kata dia.

Kesulitan HR saat ini, menurut hemat Russell, adalah fungsinya yang tengah mengalami transisi. Ketika organisasi-organisasi yang progresif tengah memanfaatkan HR sebagai cara strategis untuk mendapatkan “the right people, in the right place at the right time”, banyak perusahaan masih melihat HR mereka semata sebagai fungsi personalia.

“Kesejangan itulah yang memberi label buruk pada HR, sehingga banyak perusahaan yang telah atau mulai merencanakan untuk mengalihkan fungsi itu, atau pun meng-outsource-nya,” ujar dia. Namun, pada sisi lain, menurut Profesor Psikologi dan Kesehatan Organisasi pada Lancaster University Management School Cary Cooper, tak sedikit juga perusahaan berkelas dunia yang meletakkan HR di barisan terdepan strategi mereka. Dia menunjuk nama-nama beken seperti IBM, Shell dan Unilever.

“Pada perusahaan-perusahaan berkelas dunia, HR kini di posisi tinggi,” ujar Profesor Cooper seraya menandaskan bahwa terdapat bukti yang kuat kebijakan-kebijakan HR yang progresif seputar talent, retensi, motivasi dan “flexible working” berhasil menarik orang-orang terbaik dan membantu menggerakkan bottom line.

Dia setuju bahwa masih banyak HR yang buruk, tapi menghapuskan departemen HR dari perusahaan bukan ide bagus. “JIka Anda tidak punya departemen HR dan memperlakukan orang seperti aset mati, mereka tidak akan punya loyalitas pada organisasi dan akan segera meninggalkan perusahaan,” ingat dia.

Tags: