HR Ditantang untuk Berfungsi Esensial

Di tengah gencar dan semangatnya meyakinkan para pimpinan bisnis bahwa dirinya adalah partner yang strategis, HR mendapat “serangan” yang cukup telak dari seorang kolumnis Financial Times (FT) yang sekaligus chairman sebuah stasiun TV di Inggris, Channel 4 Luke Johnson. Secara implisit dia menyodorkan tantangan, mampukah HR menjadi elemen yang esensial bagi bisnis?

Bagi para profesional HR, pertanyaan tersebut tentu sangat mengusik karena terasa seperti sebuah upaya untuk mementahkan kembali peran mereka.
Dalam artikel berjudul The Truth about the HR Department yang dimuat FT.com pekan lalu, Johson melukiskan HR sebagai “necessary evil” dan “beban di punggung para pekerja yang produktif.”

Pendiri sebuah lembaga private aquity bernama Risk Capital Partners itu secara halus juga menyindir HR sebagai “a lot of pointless administration” ketika dia mengingatkan tentang ancaman resesi. Dikatakan bahwa dengan resesi yang membayang di depan mata, karyawan sebaiknya mengambil langkah bijak untuk “membuang jauh-jauh administrasi yang tidak berguna”. Sambil, pada saat yang sama, dia dengan penuh simpati mendukung Robert Townsend, bos Avis yang dalam bukunya Up the Organisation menyarankan agar perusahaan memecat semua staf HRD.

“Saya juga telah melakukan pemangkasan yang radikal terhadap HR pada perusahaan-perusahaan yang pernah saya pimpin, dan bisnis kemudian berjalan lebih baik,” ungkap dia.”Tragisnya, kita hidup di zaman yang penuh aturan ketenagakerjaan, sehingga memenuhi berbagai prosedur hukum yang benar akan menyelamatkan, dan itulah salah satu tugas yang harus di-handle oleh HR,” lanjut dia.

Mahal dan Tak Berbentuk

Layaknya elemen-elemen lain dalam bisnis, menurut Johnson, HR itu mahal. Bersama-sama dengan IT, bagian legal dan marketing, HR bisa menjadi musuh. “Mereka tidak menjual atau memproduksi, tapi mengkonsumsi. Layanan-layanan support mereka tidak berbentuk,” ujar dia. Tak heran jika kini banyak perusahaan yang meng-sub kontrakkan aktivitas-aktivitas HR dan membayar pihak ketiga tersebut berdasarkan kinerja. “Pemimpin yang baik peduli pada hasil, bukan proses,” tegas dia.

Johnson mengkritik HR yang sering melampaui perannya dan menyedot banyak pengeluaran. Dia mencontohkan, divisi HR sering meng-hire konsultan kompensasi hanya untuk memberi pembenaran bagi usulan kenaikan gaji karyawan. “HR juga mengundang penasihat training untuk menjauhkan karyawan dari pekerjaannya guna mengikuti pelatihan-pelatihan yang tidak jelas,” tuding dia tajam.

Johnson sampai pada kesimpulan bahwa mempekerjakan banyak karyawan saat ini semakin sulit. Dengan segala kritiknya yang tajam dan sinis itu, dia sebenarnya memberi peringatan keras bahwa HR harus berfungsi seefektif mungkin, dan jangan sebaliknya, justru birokratis. HR harus mampu menjadi elemen yang esensial.

Diingatkan, dalam iklim kompetisi global, perusahaan harus berbenah untuk mampu bertahan. “Perusahaan-perusahaan akan memangkas fungsi-fungsi yang tidak esensial dan mengalihkan pekerjaan-pekerjaan yang mahal ke negara-negara berbiaya murah, kalau memang memungkinkan. Tidak ada tempat bagi yang tidak esensial,” simpul dia.

Tags: