Gen Y Pemalas yang Tak Punya Motivasi?

Seiring dengan bergulirnya proses penuaan populasi tenaga kerja, para lulusan baru yang dikenal dengan sebuatn Generasi (Gen) Y semakin diperhitungkan sebagai komoditas yang bernilai. Permintaan terhadap generasi yang dikenal berubah-ubah dan “matre” ini pun semakin meningkat di pasar rekrutmen tenaga kerja.

Demikian menurut laporan tahunan yang dikeluarkan Association of Graduate Recruiters (AGR) yang berpusat di Inggris. Studi yang dilakukan AGR mencatat, meskipun masa depan dunia berada di tangan Gen Y, namun para lulusan baru yang lahir setelah tahun 1982 itu pemalas yang tak memiliki motivasi.

Padahal, sejauh ini, banyak perusahaan yang telah memperluas jangkauan iklan lowongan mereka untuk menjaring para lulusan baru dari luar negeri, karena percaya bahwa Gen Y memiliki semangat kerja yang besar. Dari hari ke hari kehadiran Gen Y di pasar tenaga kerja memang semakin hangat dibicarakan. Banyak kontroversi yang menyertai mereka sehingga menjadi perdebatan hangat yang tiada habisnya.

Sebuah survei lain yang dilakukan Oktober tahun lalu oleh website rekrutmen CareerBuilder.com menemukan keluhan dari para pemimpin bisnis mengenai karyawan dari Gen Y. Mereka dinilai tidak melaksanakan tugas dengan baik, berharap gaji tinggi, baru setahun sudah minta dipromosikan, dan menginginkan jam kerja yang fleksibel.

Positif

Survei AGR melibatkan 217 pemimpin perusahaan dan memprediksikan bahwa lowongan kerja bagi lulusan baru akan meningkat tahun ini.Ketika diminta menyebutkan 3 sifat yang menggambarkan Gen Y, para pemimpin perusahaan tersebut ternyata memberikan respon yang tidak sepenuhnya negatif. Muncul jawaban-jawaban yang positif, seperti “ambisius”, “demanding”, “percaya diri”, “fleksibel”, “tech-savvy” dan “sadar lingkungan dan sadar etika”.

Namun, mereka juga menilai bahwa Generation Y yang baru lulus perguruan tinggi biasanya “tidak realistis” (mengenai harapan-harapan kerja), “memikirkan diri sendiri”, “berubah-ubah” dan “matre”. Seperempat responden berharap pada lulusan baru yang datang dari luar negeri yang diyakini mungkin lebih memiliki semangat kerja hasrat untuk sukses yang tinggi”.

Para pemimpin bisnis juga mengeluhkan bahwa para lulusan baru itu lebih sering “bicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda” ketika ditanya mengenai kerja dan harapan-harapan mereka. Kabar gembiranya, perusahaan percaya Gen Y serius dalam pengembangan pribadi dan karir mereka, serta “engaged” terhadap organisasi yang memang mereka inginkan sebagai tempat untuk bekerja. Meskipun pada saat yang sama diyakini juga bahwa secara umum lulusan baru dari Gen Y cenderung kurang loyal. “Temuan studi ini adalah indikator tantangan-tantangan baru dalam program retensi perusahaan yang mungkin akan semakin besar seiring datangnya Gen Y mendominasi dunia ketenagakerjaan,” simpul AGR.

Tags: