David Knowles: Assessment Tak Harus Bersifat Fisik

Saat ini, banyak perusahaan merasa ketinggalan zaman kalau tidak menggunakan assessment centre dalam manajemen SDM mereka. Sayangnya, assessment centre masih lebih banyak dipahami dalam pengertian fisik tertentu.

Managing Partner sekaligus Konsultan Utama pada Opus Management David Knowles dalam keterangannya di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (28/2/07) membedakan antara assessment centre dan proses assessment.

“Assessment tidak harus selalu mengacu pada pengertian fisik, di sebuah ruangan tertentu, sebab di setiap perusahaan selalu ada proses assessment,” ujar dia.
Banyak aktivitas di dalam perusahaan yang merupakan kegiatan assessment, tanpa harus disebut secara khusus sebagai assessment centre. David mencontohkan, misalnya ketika manajemen mendefinisikan kriteria-kriteria untuk memilih dan menempatkan orang yang tepat.

Lebih jauh David mengingatkan, berbagai program organisasi yang berkaitan dengan usaha-usaha menyeleksi, mengembangkan dan mempertahankan karyawan dewasa ini semakin dilihat sebagai suatu strategi untuk menang di pasar.

“Menjelaskan pentingnya hal-hal itu kepada top management, yang notabene bukan orang HR, seperti sebuah perjuangan yang berat. Mereka mengakui, bahwa SDM memang harus selalu ditingkatkan, tapi kalau sudah bicara anggaran, mereka malas.”

David kemudian membandingkan situasi dewasa ini dengan masa yang telah berlalu. “Dulu, kalau mau menang di pasar, beli saja teknologi baru. Tapi, sekarang competitive advantage harus digali dari karakter-karakter dalam organisasi, misalnya kompetensi SDM.”

Dalam hemat David, memilih orang dengan kriteria dan kualifikasi ‘pandai’ saja tidak cukup. “Banyak kompetensi lain yang penting untuk diperhatikan di masa sekarang, misalnya respon terhadap aturan-aturan baru, kompetensi untuk berhubungan dengan customer dan menjalin hubungan yang efektif dengan berbagai pihak.”

Untuk itu semua, perlu proses yang profesional dan ketat, dan dibarengi dengan dukungan alat bantu. “Berbagai tes memang tidak akan menggantikan keputusan manajemen, melainkan hanya satu masukan untuk manajer, dan itu sangat membantu,” ujar David yang dalam kesempatan tersebut memperkenalkan web based assessment.

Kendati diakui bahwa masih cukup banyak kendala untuk mengimplementasikan assessment online di Indonesia, namun David melihat web based assessmentsebagai alternatif yang mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang masih mungkin dijumpai pada assessment centre.

“Yang jelas, tujuannya tak lain untuk lebih memfokuskan kompetensi apa yang diperlukan sebagai value drivers perusahaan kita. Membantu manajemen mendapatkan gambar, kita perlu orang seperti apa, dan siapa yang perlu dikembangkan,” kata David.

Tags: