“Bullying” di Kantor Lebih Merusak Ketimbang Pelecehan Seksual

Untuk menciptakan lingkungan kerja yang kompetitif dan memacu individu memaksimalkan potensi mereka, seorang manajer atau supervisor atau pimpinan perusahaan sering terjebak dalam gaya manajemen yang kabur antara memberi tantangan, memotivasi atau mem-bully. Menurut sebuah studi akademis di Kanada menyimpulkan bahwa budaya “bullying” bisa lebih besar memicu kerusakan pada karyawan bahkan jika dibandingkan dengan tindakan pelecehan seksual.

Riset dilakukan atas 110 studi yang telah dilakukan selama 21 tahun, dengan fokus membandingkan konsekuensi-konsekuensi yang dialami oleh karyawan korban pelecehan seksual dan korban serangan “kekerasan verbal” di tempat kerja. Lebih spesifik lagi, riset tersebut meneliti pengaruhnya pada pekerjaan, kepuasan rekan kerja dan supervisor, stres karyawan, tingkat-tingkat kemarahan serta kesehatan fisik dan mental mereka.

Tak ketinggalan, angka turnover akibat “bullying” dan pelecehan seksual juga dibandingkan. Dijelaskan, yang termasuk dalam “bullying” adalah tak henti-henti mengomentari hasil pekerjaan anak buah, berteriak/membentak, berulang-ulang mengingatkan kesalahan karyawan, menyebarkan gosip atau kebohongan, penolakan atau pengucilan terhadap karyawan tertentu.

Baik “bullying” maupun pelecehan seksual tentu saja jelas menciptakan lingkungan kerja yang negatif dan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak sehat bagi karyawan. Namun, riset menemukan bahwa pada tindakan “bullying”, konsekuensi tersebut lebih besar. Karyawan yang mengalami “bullying” lebih cenderung untuk keluar dari perusahaan, demikian menurut hasil riset tersebut. Mereka juga merasa kurang bahagia, kurang puas dengan pekerjaan dan juga kurang puas dengan hubungan dengan bos dibandingkan dengan karyawan yang mengalami pelecehan seksual.

Lebih jauh, karyawan korban “bullying” dilaporkan lebih stres dan kurang memiliki komitmen dengan pekerjaan dan berada dalam tingkat kemarahan yang tinggi.
“Korban pelecehan seksual biasanya kurang diterima di masyarakat, sehingga organisasi lebih membantu mereka,” ujar pimpinan penulis laporan penelitian tersebut M Sandy Hershcovis dari University of Manitoba. “Sebaliknya, korban bullying biasanya mengatasi masalah mereka sendiri,” tambah dia.

Hershcovis mengingatkan, “bullying” sering lebih rumit karena termasuk di dalamnya perilaku-perilaku yang dari luar tampaknya “baik-baik saja”, tidak mencolok dan tidak menimbulkan kecurigaan orang lain. “Misalnya, ada seorang karyawan yang selalu tidak diajak makan siang, atau keberadaannya ditolak oleh teman-temannya. Ini kelihatan sepele, sehingga membuat korban sulit mengatasinya,” papar dia.

Tags: