Awas, Usai Krisis Banyak Karyawan Pindah Kerja

Krisis ekonomi selain berdampak negatif ternyata justru menjadi peringatan penting bagi perusahaan. Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa banyak karyawan merasa tidak cocok dengan pekerjaan mereka saat ini. Dan, mereka akan memanfaatkan momen krisis untuk pindah kantor.
Survei yang dilakukan di Inggris oleh lembaga pengembangan sumber daya manusia SHL tersebut melibatkan 1000 orang karyawan dan hasilnya menjadi peringatan bagi segenap perusahaan.
Ditemukan bahwa satu dari lima karyawan kurang atau sama sekali merasa cocok dengan pekerjaan mereka. Dari angka tersebut, seperempatnya terjadi pada karyawan berusia muda, antara 16 hingga 35 tahun. Mereka memperlihatkan perasaan akan minimnya kepuasan kerja.
Secara umum, survei menemukan bahwa 17% karyawan merasa tidak berada di tempat yang benar berkaitan dengan karier mereka. Namun, khusus untuk rentang usia 16 hingga 35 tadi, angka ketidakpuasannya menjadi 25%.
Lebih jauh survei mendapati bahwa sepertiga karyawan mengaku akan melakukan evaluasi terhadap pekerjaan mereka dikarenakan adanya krisis ekonomi. Dan, seperempat mangatakan sedang mempertimbangkan untuk "berpindah kapal" setelah kondisi ekonomi membaik.
Alasan utama mereka yang akan mencari pekerjaan baru setelah krisis berakhir adalah kebutuhan akan "job security" yang lebih besar (19%), mencari pekerjaan yang lebih menyenangkan (15%) dan ingin bekerja di perusahaan yang memiliki kesamaan nilai dengan dirinya (9%).
Karyawan dalam industri retail, leisure dan catering ditemukan paling kecil tingkat "job satisfaction"-nya, sementara karyawan dari industri healthcare dan pendidikan memiliki tingkat kepuasan yang paling tinggi pada pekerjaannya.
CEO SHL David Leigh menggarisbawahi, "Kurangnya tingkat kecocokan pada pekerjaan akan berpengaruh pada tingkat engagement dan motivasi karyawan, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas."
Menurut Leigh, hal-hal itu bukan sesuatu yang bisa diatasi oleh perusahaan di masa ekonomi sulit seperti sekarang ini.