Asmara di Kantor Dilema HR

Asmara di kantor selalu menjadi bagian dari cerita dalam dunia kerja. Banyak perusahaan yang menganggapnya sepele sehingga tak perlu ikut campur, namun tidak sedikit juga yang membuat peraturan berkaitan dengan urusan cinta antarkaryawan tersebut. Sementara, HR berada dalam dilema ketika harus menyikapinya.

Menurut sebuah survei terbaru, fenomena asmara di kantor tidak seheboh dulu, namun tetap masih merupakan kelaziman di mana-mana. Tentu saja. Bayangkan, jika setiap orang usia kerja menghabiskan waktu mereka di kantor rata-rata lebih dari 40 jam per pekan. Maka, kemungkinan bagi seseorang untuk menjalin hubungan asmara dengan rekan sekerja dan menemukan jodohnya di kantor sangat besar.

Survei yang dilakukan perusahaan penempatan tenaga kerja Spherion atas 1.391 orang dewasa di AS menemukan bahwa separo dari karyawan mengaku ingin berkencan dengan teman sekantornya, setidaknya sekali saja. Dan, 22% dari hubungan asmara antarteman sekerja berlanjut menjadi suami-istri.

Uniknya, karyawan pria lebih tertarik untuk mencari pacar di kantor (43%) ketimbang karyawan wanita (28%). Umumnya, mereka tidak khawatir kehilangan pekerjaan karena menjalin hubungan asmara di tempat kerja. Hanya 30% yang berpikir bahwa hal itu bisa merusak karier mereka.

Maraknya website jaringan sosial di internet, dan bentuk-bentuk online lainnya yang memungkinkan orang berkenalan dengan orang lain yang tidak dikenal merupakan faktor penyebab turunnya frekuensi dan intensitas hubungan asmara antarteman sekantor.
Namun, sebuah survei lain memperlihatkan betapa hal tersebut masih tetap menjadi cerita yang mewarnai kehidupan di tempat kerja.

Bahkan, menurut 2008 Harlequin Romance Report, ketertarikan orang untuk mencari jodoh di lingkungan kantor masih tinggi. Dilaporkan, 57% pria dan 61% wanita (dari 3000 responden) menyatakan memiliki ketertarikan terhadap seseorang dari teman sekantor. Lebih dari itu, 65% pria dan 56% wanita mencoba membangun hubungan serius dengan rekan kerja.

Dilema HR

Menurut VP dan Kepala Bagian HR Spherion, John Heins fenomena hubungan asmara di kantor mau tak mau membuat posisi HR berada dalam dilema antara “membiarkannya” atau menyikapinya dengan peraturan dan kebijakan tertulis. Faktanya, menurut data 2006 (Workplace Romance Survey atas 493 profesional HR yang dilakukan Society for Human Resource Management), 72% departemen HR tidak memiliki kebijakan berkaitan dengan urusan asmara di kantor.

Tampaknya, para eksekutif HR umumnya tidak tertarik dengan gosip dan mereka tidak ingin mencampuri urusan percintaan orang lain. Namun, menurut Heins, HR perlu lebih concern terhadap isu ini untuk mengantisipasi pengaduan perundungan seksual yang mungkin terjadi dalam hubungan antara atasan dan bawahan.

Heins menyarankan adanya kebijakan untuk mengantisipasi hubungan asmara yang melibatkan dua karyawan dalam satu unit manajerial yang sama. “Misalnya mereka kelak menikah, perusahaan perlu memiliki kebijakan tentang suami-istri yang bekerja pada satu unit bisnis yang sama. Apakah itu akan mempengaruhi peningkatan karir mereka dan sebagainya, karyawan harus diberi tahu.”

Stephanie Losee, yang menulis buku Office Mate: The Employee Handbook for Finding -and Managing- Romance on the Job bersama rekannya Helaine Olen mengatakan, departemen HR di sejumlah perusahaan mulai menyadari dilema dari fenomena asmara di kantor dan memanfaatkannya sebagai peluang.”Orang-orang kreatif di kantor, atau pasangan menikah atau pun pasangan yang hidup bersama bisa saling membantu dalam menyelesaikan persoalan dan bisa bekerja sama secara efektif khususnya dalam bidang-bidang pekerjaan artistik,” ujar Losee.

“Cinta bisa ditemukan di mana-mana. Anda dapat bertemus eseorang di supermarket atau di depan bangku kerja Anda di kantor. Jadi, asrama di tempat kerja itu suatu yang wajar saja. Tinggal kasih tahu saja agar hal itu jangan sampai mengganggu pekerjaan,” tambah dia.

Tags: