Antusiasme di Tempat Kerja Menurun

Hanya 14% perusahaan yang memiliki karyawan yang antusias dengan pekerjaan mereka. Dan, sikap karyawan terhadap pekerjaan serta lingkungan kerja secara umum lebih dipengaruhi oleh masa kerja ketimbang masalah generasi atau perbedaan usia. Baik karyawan dari kalangan generasi muda (usia 25 – 34) maupun yang lebih senior (55 tahun ke atas) memperlihatkan perbedaan yang tajam dalam kepuasan terhadap pekerjaan dalam setahun pertama masa kerja mereka.

Survei yang dirilis oleh Sirota Survey Intelligence di New York menguji kepuasan yang diekspresikan oleh 64.304 pekerja lewat sebuah penelitian sikap karyawan. Studi difokuskan pada isu kesetaraan bagaimana karyawan diperlakukan secara fair, dengan penghargaan sesuai kondisi-kondisi dasar ketenagakerjaan.

“Budaya perusahaan atau bagaimana manajemen memperlakukan karyawan, dan sikap-sikap serta perilaku manajemen terhadap pekerja mempengaruhi seberapa besar penurunan antusiasme,” ujar Presiden Sirota, Douglas Klein.

“Karyawan yang berusia lebih tua memulai pekerjaan baru dengan harapan yang sama besar dengan pekerja muda. Mereka punya kebutuhan-kebutuhan mendasar yang sama,” jelas dia. “Tingkat antusiasme mereka tergantung pada seberapa baik kebutuhan-kebutuhan mereka itu terpenuhi seiring dengan pergerakan mereka dalam tingkatan lingkaran ketenagakerjaan.”

Tak Sengaja

Menurut salah seorang pimpinan di Sirota, David Sirota, manajemen secara tak sengaja menghambat motivasi karyawan dan menurunkan antusiasme mereka lewat berbagai hal. “Banyak perusahaan memperlakukan karyawan seperti penjepit kertas yang bisa dibuang (ketika sudah tak dibutuhkan),” ujar dia.

“Sebagai contoh, ketika pertama kali bisnis mengalami kesulitan, para karyawan diberi beban kerja lebih besar, namun tidak menerima pengakuan dan penghargaan yang sepadan dengan kontribusi mereka.”

Lebih jauh lagi David Sirota menyoroti, “Begitu banyak perusahaan yang menggunakan pendekatan transaksional dalam manajemen, di mana karyawan diperlakukan semata-mata sebagai komoditas yang memiliki ‘harga’, namun tidak ‘dibeli’ secara memadai.”

Ibarat Kencan

Sementara itu, Direktur Center on Aging and Work/Workplace Flexibility pada Boston College Marcie Pitt-Catsouphes mengibaratkan hubungan karyawan dan perusahaannya dengan hubungan personal dua orang yang berkencan. Awalnya serba positif namun dalam perjalanannya diwarnai banyak ketegangan.

Pitt-Catsouphes merekomendasikan kepada kalangan praktisi HR agar menyediakan sarana-sarana, baik formal maupun informal, untuk memungkinkan pertukaran informasi tentang semangat karyawan dan masalah-masalah yang ada.

“Praktisi HR bisa bekerja sama dengan jajaran supervisor dan bersama-sama mereka menjadi ‘pendengar setia’ ketika karyawan curhat tentang tujuan-tujuan karir mereka, sehingga para supervisor itu bisa dengan serius mempertimbangkan kemungkinan perbaikan pekerjaan bagi karyawan.”

Tags: