2009 Akan Jadi Tahun yang Berat bagi HR

Bersiap-siaplah. Tahun baru tinggal setengah bulan lagi. Ini bukan tentang pesta perayaan dengan aneka kembang api. Melainkan, beban dan tekanan yang akan semakin tinggi bagi orang HR. Sebab, krisis ekonomi akan semakin terasa dampaknya mulai tahun depan, dan itu artinya HR menjadi pihak yang paling sibuk dan dicari.

Demikian kesimpulan yang bisa ditarik dari acara Reflection Dinner with Paulus Bambang WS yang digelas PortalHR.com di Club 3 Degrees, F.X Plaza, Jakarta, pekan lalu. Menurut Vice President Director Marketing & Operation PT United Tractors tersebut, tahun 2008 yang akan segera berlalu merupakan “year of surprises”. Sebab, “Kita memasukinya dengan excitement of growth, dan meninggalkannya dengan economic downturn shock,” kata dia.

Diungkapkan, perubahan yang terjadi dalam tiga bulan terakhir menuntut orang HR untuk mengambil aksi yang cepat dan melakukan manajemen risiko. “Tak ada istilah nonsense. HR harus bekerja keras, dan berani,” tegas Paulus. Tentu saja, keberanian yang dimaksud terkait dengan kemungkinan PHK yang dilakukan oleh perusahaan karena dampak krisis. “HR harus berani memperjuangkan karyawan, berjuang sampai titik darah penghabisan,” tandas dia seraya memberikan ilustrasi, sungguh tak pantas jika aktivitas golf jalan terus tapi tega-teganya memangkas karyawan.

Lebih jauh Paulus mengingatkan, krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan yang terjadi pada 1998. “Pada masa itu, karyawan yang terkena PHK mudah mendapatkan pekerjaan lagi, tapi sekarang sulit karena industrinya tidak ada. Mem-PHK satu karyawan saja harus pikir-pikir karena cari kerja lagi nggak gampang,” demikian Paulus wanti-wanti. Tak pelak lagi, tahun 2009 akan menjadi tahun yang berat bagi HR. “Tahun depan merupakan year of survival, dan semua tergantung HR,” ujar Paulus. “Mungkin kalau sampai akhir tahun ini belum terasa, nanti kira-kira mulai Maret baru akan terasa real tantangannya,” lanjut dia.

Salah satu yang terberat, sudah barang tentu, meyakinkan CEO agar jangan terlalu mudah memutuskan untuk melakukan PHK. “Sentuhlah CEO secara emosional. Saya kira para CEO juga tahu kalau krisis yang terjadi sekarang beda. Mestinya tahu. Kalau pun pembicaraan antara HR dan CEO tak bisa langsung win-lose, yang penting jangan mudah menyerah.”

Paulus mengingatkan, PHK mungkin memang akan membuat perusahaan membaik secara performance. Namun, secara moral semua pihak akan menderita. “Bukan hanya mereka yang terkena PHK, tapi yang masih tinggal di perusahaan akan terkena dampak psikologisnya juga,” ujar dia.

Tags: