20% Waktu Karyawan Terbuang Percuma

Setiap karyawan rata-rata membuang sia-sia 20% waktunya di kantor, atau 1,7 jam dari 8,5 jam kerja. Dan, yang cenderung paling banyak melakukannya adalah karyawan dari generasi yang lebih muda.

Demikian sebuah survei baru yang dilakukan oleh Salary.com di Amerika Serikat. Penelitian bertajuk "2007 Wasting Time Survey" itu melibatkan 2000 karyawan dari berbagai level pekerjaan, dan mencoba mengungkap bagaimana mereka memanfaatkan waktu kerja mereka.

Aktivitas-aktivitas yang tergolong "the top time-wasting" adalah menggunakan internet untuk tujuan-tujuan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, ngobrol dengan teman dan sibuk dengan urusan pribadi.

Karyawan berusia 20 – 29 membuang waktu raya-rata 2,1 jam per hari kerja, dan angka tersebut menurun seiring dengan kenaikan usia: 1,9 jam untuk mereka yang berumur 30 – 29 dan 1,4 jam untuk karyawan berusia 40 – 49 tahun.

"Karyawan yang berusia lebih dewasa cenderung memiliki etika kerja yang lebih kuat," ujar Chief Compensation Officer Salary.com Bill Coleman.

Namun, Coleman juga melihat bahwa karyawan yang berusia di bawah 30 tahun memiliki persepsi sendiri mengenai "penggunaan waktu yang efisien dan efektif", sehingga mereka tampak lebih banyak buang-buang waktu.

Ahli masalah efektivitas organisasi dari Watson Wyatt di Chicago Ilene Gochman mengatakan, karyawan berusia muda sering memerlukan waktu untuk mempelajari apa yang diharapkan pihak lain (atasan atau perusahaan) dari mereka.

Memperlambat Proses

Kegiatan lain yang dianggap buang-buang waktu di tempat kerja adalah web surfing dan bermain pesan instan yang tak berhubungan dengan pekerjaan, serta hal-hal yang bersifat memperlambat proses seperti menunggu download informasi dari komputer atau menunggu telepon balik dari klien.

Menurut Gochman, karyawan umumnya tidak begitu memberi tempat yang tinggi pada soal efisiensi proses-proses pekerjaan.

Kembali ke hasil survei, 14% karyawan mengaku, mereka cenderung membuang-buang waktu karena menganggap bahwa jam kerja begitu lama. Sedangkan, 18% mengatakan bahwa mereka tidak punya cukup banyak pekerjaan dan 11% beralasan bahwa pekerjaan mereka tak cukup menantang.

"Saya kira komunitas HR perlu menyadari bahwa anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam situasi yang berbeda," ujar Coleman seraya menambahkan bahwa karyawan berusia muda cenderung mudah bosan dan beralih perhatian.

"Menurut saya, diperlukan sistem-sistem pengembangan yang berjalan baik dan menjaga agar orang terus merasa terikat untuk menciptakan wahana baru bagi lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan," lanjut Coleman.

Sementara menurut Gochman, tak kalah penting untuk diperhatikan kalangan HR adalah mentargetkan program-program mentoring bagi karyawan berusia di bawah 30 tahun. "Anak-anak muda umunya memiliki ketertarik yang besar pada pengembangan diri," ujar dia.

Gochman juga menyarankan agar para profesional HR juga meminta masukan dari karyawan mengenai bagaimana meningkatkan efisiensi proses-proses pekerjaan dan meminimalkan jam kerja yang terbuang.