10 Tweet Yang Sebaiknya Dihindari

Data dari Semiocast.com dan AworldofTweet.com pada Februari 2012 menyebutkan, pengguna Twitter Indonesia saat ini sudah mencapai 19,5 juta orang. Besar kemungkinan, sebagian dari angka tersebut adalah karyawan Anda. Apakah Anda sudah aware mengenai aktivitas mereka di situs-situs jejaring sosial, khususnya media sosial yang bersifat publik seperti Twitter?

Seringkali kita lupa bahwa apa saja yang kita posting di Twitter dapat dibaca oleh siapa saja, termasuk kompetitor maupun orang-orang yang bisa mengambil keuntungan dari status kita. Majalah Inc beberapa waktu yang lalu membuat daftar 10 jenis status yang sebaiknya dihindari di Twitter khususnya oleh para pelaku bisnis:

1. Tweet berisi “aib kompetitor”

Tentunya kita tidak ingin memancing peperangan dengan kompetitor di Twitter bukan? Hal seperti itu justru memicu hubungan yang tidak sehat dan merugikan satu sama lain. Hasilnya, ketika orang-orang mencari informasi tentang perusahaan kita di Google, komentar-komentar negatiflah yang akan muncul.

2. Tweet menggunakan anak magang

Seringkali perusahaan menggunakan anak magang (yang seringkali masih kuliah) untuk memegang akun social media mereka. Hal ini adalah pertaruhan yang cukup berisiko. Bisa dibayangkan jika kita menyuruh karyawan yang masih remaja untuk men-tweet atas nama perusahaan. Mungkin twitter akan menjadi update setiap saat, tetapi dalam hal konten, kita masih harus was-was tentang baik atau tidaknya.

3. Tweet “kebohongan publik”

Jika perusahaan men-tweet sesuatu yang tidak benar tentang perusahaan dengan tujuan untuk mendongkrak nama baik, sama saja artinya dengan bunuh diri. Memposting prestasi, achievement, atau apapun yang tidak pernah kita capai suatu saat akan diketahui juga dan ada orang-orang yang akan menghukum kita atas kebohongan tersebut.

4. Tweet “mengelak dari tuduhan”

Konsumen yang tidak puas, adakalanya menghujat kita melalui Twitter. Menghadapi tweet seperti itu, kurang bijak jika kita langsung membalas dengan sanggahan, meskipun seandainya kita yang benar. Carilah cara yang lebih bijak dalam menyikapinya. Anggap tweet itu sebagai peluang untuk membangun hubungan baik dengan konsumen, misalnya dengan mengajak diskusi offline. Atau jika jumlah tweet negatif hanya satu atau dua, sedangkan puluhan lainnya mengatakan positif, mungkin lebih baik jika kita diamkan saja.

5. Tweet “ reaksi spontan”

Sudah menjadi sifat alami manusia untuk besikap defensif ketika sedang diserang atau terdesak. Saat kita diserang dengan 140 karakter di Twitter, serta merta menanggapinya dengan pembelaan diri dan penyanggahan adalah kurang tepat. Jika memang kita salah, lebih baik mengakui dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik.

6. Tweet “pamer aktivitas pribadi”

Apabila kita memegang akun perusahaan dan men-tweet atas nama perusahaan atau bisnis, satu hal yang harus diingat adalah tidak memamerkan kegiatan pribadi. Misalnya tweet, “habis maksi di resto X bersama manager HRD”. Tweet-tweet semacam itu hanya cocok untuk akun pribadi atau perusahaan yang memang bergerak di bidang makanan. Postinglah di Twitter informasi-informasi yang relevan dengan bisnis dan ketertarikan follower.

7. Tweet “penawaran yang tidak menarik

Twitter memang bisa dimanfaatkan untuk memberikan penawaran menarik seperti diskon, cash back atau promo lain. Namun, jika yang kita tawarkan itu tidak cukup berharga, misalnya ‘beli 15 gratis 1! ‘, mungkin kita harus berpikir seribu kali untuk melakukannya.

8. Tweet “opini politik”

Misalnya saja kita tidak setuju dengan partai penguasa atau kita tidak suka dengan kondisi politik saat ini. Simpan saja tweet yang demikian untuk akun pribadi (jika memang harus).

9. Tweet “foto liburan berkelas”

Contohnya adalah tweet ketika beberapa karyawan kantor menghabiskan liburan di luar negeri pada akhir tahun. Selain ini dikatakan egois, follower akan melihat bahwa perusahaan terlalu mengambil keuntungan dari konsumen sehingga bisa berhura-hura ke luar negeri dan bukannya mengurusi produk atau store-nya.

10. Tweet “informasi tidak penting yang menurunkan citra produk”

Meliputi semua tweet yang belum termasuk dalam kesembilan kriteria di atas, tetapi berpengaruh negatif terhadap bisnis. Misalnya saja guyonan garing, komentar seksis dan typo di mana-mana, hal-hal kecil lain yang dapat membuat konsumen berpikir negatif tentang bisnis kita.

Tags: ,