Tips Meretensi High Performers

Keberhasilan meretensi karyawan-karyawan kunci adalah salah satu faktor utama yang menentukan kesehatan dan kesuksesan suatu perusahaan. Berikut ini adalah beberapa tips meretensi high performers yang diperoleh dari seminar “Outsourcing and Human Resources Management” yang diadakan CHRP Atmajaya beberapa waktu yang lalu di Jakarta.

Langkah retensi yang paling dasar yang biasanya dilakukan perusahaan adalah memberikan kompensasi yang bersifat jangka panjang, seperti uang pensiun, pinjaman, angsuran rumah dan sebagainya untuk mengikat karyawan.

Namun, seperti dikatakan Putri L. Wirjawan, VP Human Resources Chevron Indonesia, pekerja saat ini tidak tertarik lagi dengan kompensasi jangka panjang seperti itu.

Untuk meretensi para high performers ini, di Chevron ada yang disebut dengan Retention Toolbox, yaitu langkah-langkah yang digunakan secara terbatas karena sensitif.  Contohnya seperti program-program beasiswa, retention bonus, dan kesempatan bekerja di luar negeri, diberikan kepada orang-orang dengan skill yang jarang, seperti engineer.

Sementara itu di PLN untuk meretensi extraordinary player diberikan suasana yang kompetitif dan juga sistem yang adil.

“Orang-orang pintar biasanya suka suasana yang kompetitif,” ujar Djuanda Nugraha Ibrahim, mantan direktur HR PT PLN.

Yang dimaksud dengan sistem yang adil adalah sejak diberlakukannya CBHRM (Competency-based Human Resources Management) gaji dan jabatan tidak lagi ditentukan oleh lamanya seorang bekerja, tetapi lebih pada kinerja dan kompetensinya.

Cara meretensi karyawan yang dilakukan di Telkom juga hampir sama. Pada dasarnya, para high performers harus terus diberi tantangan, terutama untuk aktualisasi diri. Hal ini terkait juga dengan career plan setiap karyawan.

“Jangan lupa bahwa kalau plan doang tidak dieksekusi, bisa menimbulkan demotivasi pada karyawan,” demikian ungkap Jhon Welly, mantan direktur HR PT Telkom Tbk dalam acara seminar tersebut.