Tips Mengelola Karyawan untuk UMKM

Mengelola SDM (people management) adalah bagian yang krusial dalam perkembangan sebuah bisnis. Untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) hal ini menjadi lebih rumit karena pebisnis harus lebih bijak dan berhati-hati dalam setiap pengeluaran.

Asep Haerul Gani, Human Capital Coach & Consultant kemarin (18/10) berbagi tips people management ini melalui Twitter.

Salah satu hal yang menarik disimak misalnya, apakah perusahaan perlu menggunakan jasa konsultan SDM? Buat perusahaan yang sudah stabil tentu memiliki sistem HR yang solid. Sementara bagi perusahaan yang baru memulai atau start-up, pilihan cepat salah satunya adalah menggunakan jasa konsultan.

Namun untuk memilih konsultan yang baik ada hal-hal yang harus diperhatikan. Menurut Asep, kekeliruan banyak perusahaan tentang HR adalah membeli konsep-konsep manajemen yang mahal tapi tidak aplikatif, sehingga mubazir.

“Saya cermati ada perusahaan yang justru setelah menggandeng konsultan malah menjadi mandeg bahkan turun. Kenapa, karena ibaratnya otak dihentikan. Konsultan itu bukan otak perusahaan, jadikan konsultan agar otak perusahaan semakin kreatif bukan malah menghentikannya,” papar Asep.

Asep juga menambahkan, meskipun masih UMKM, perusahaan sebaiknya sudah menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) dengan menaati aturan yang berlaku.

“Meski UKM namun niatkan diri menjalankan untuk GCG, sehingga pantas bermitra dengan perusahaan yang GCG dan perusahaan kelas dunia. Jadikan GCG sebagai kebutuhan, sehingga mutu adalah menjadi keseharian dalam proses Anda berusaha,” imbuhnya.

Asep menyarankan, agar pengusaha jeli untuk mencermati UUTK No 13 tahun 2003, jauh lebih baik dicermati dari sisi keuangan daripada sisi hukum. “Hitung yang benar biaya HR, jangan mencuri dari karyawan dengan mengakali aturan-aturan HR , Anda dapat tercuri lebih banyak,” tuturnya.

Lebih baik mengalokasikan uang untuk tanggungan pensiun karyawan ke pihak ketiga, daripada dikelola sendiri, nanti malah terpakai. “Loyalitas jangan diartikan lamanya karyawan bekerja dengan Anda. Buat apa lama tapi tidak produktif, hanya menambah beban. Loyalitas lebih baik dimaknai kontribusi optimal pekerja kepada perusahaan,” tambahnya.

Untuk itulah rekrutmen karyawan juga menjadi titik krusial. “Carilah karyawan yang kontributif bukan lama, jangan terlalu percaya terhadap test psikologi, karena test tersebut dirancang tidak untuk mengukur kekhususan dalam keunikan pekerjaan,” kata Asep.

Ia memberikan contoh, ketika ingin merekrut calon penjual, aneh saja kalau test-nya tertulis, padahal pekerjaan penjual khan menghadapi orang dan berkomunikasi secara intensif. “Seleksi penjual ya konteksnya penjualan dong. Langsung beri tugas menjual, cermati perilaku penjual lain untuk perbandingan. Dengan cara seleksi pada konteks nyata atau simulasi seperti ini, maka akan menghemat biaya yang tak perlu dalam hal seleksi dan training,” imbuh Asep.

Asep juga menambahkan, semakin perusahaan keliru merekrut orang, maka semakin training pun menjadi mubazir, sambil menambahkan perumpamaan ngapain ngajarin anjing berkicau.

Cara terbaik membuat karyawan mendukung pengusaha, lanjut Asep adalah membuat mereka paham bisnis itu datangnya dari mana. “Bila Anda punya toko, pastikan karyawan Anda adalah mahir menjadi penjual bukan penjaga toko. Keliru rekrut! Berabe!,” tegasnya.

Asep memberi gambaran, banyak pengusaha membuka sejumlah outlet namun tidak untung. “Pertanyaannya mengapa? Rupanya tokonya dilayani oleh karyawan tipe penjaga toko, bukan penjual. Untuk itulah, pastikan karyawan Anda memahami makna pertukaran dan nilai tambah. Dan pastikan mereka konsisten melakukannya,” tukas Asep lagi.

Tags: ,