Pertahankan Karyawan dengan Training

Training merupakan salah satu langkah yang dipandang memiliki efek sustainable untuk mempertahankan dan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut David Knowles dalam seminar Leadership Crestcom, 2 dari 5 perusahaan memilih training (pelatihan) sebagai upaya nyata untuk perbaikan kinerja karyawannya.

Hal pertama yang dibenarkan David adalah terkadang perusahaan tidak bisa mendapatkan talent yang 100% bagus. Untuk itu pelatihan merupakan investasi yang efektif dilakukan di awal setelah perekrutan.

Berikut ini 5 cara untuk meningkatkan kinerja karyawan yang kami kutip dari seminar tersebut:

1. Berinvestasilah pada Training

Anda pasti mengakui bahwa perusahaan pasti akan mempertahankan top talent-nya sebaik mungkin. Upaya itu bisa dilakukan dengan menjalankan program training untuk mereka. Investasikan uang perusahaan untuk pengembangan karyawan, dijamin mereka akan menikmati proses tersebut. Semakin peduli Anda dengan training semakin dekat hal itu membawa perusahaan Anda menuju pencapaian yang lebih besar.

2. Mulai Awal dan Tidak Monoton

Selain pelaksanaan training yang sebaiknya dilakukan di awal, menurut salah satu peserta dalam seminar ini, perusahaan mereka juga mengakui bahwa cara-cara training tidak harus bersifat konservatif. Anda bisa meluangkan waktu sekitar 10-15 menit untuk memberikan pelatihan secara berkala kepada karyawan, hal itu disebut short training. Intinya, buatlah pelaksanaan training yang tidak monoton, karena karyawan kini makin kritis dan menyukai hal-hal yang berbeda.

3. Berkesinambungan

Lakukan training secara berkesinambungan, sehingga tujuan pelatihan akan terasa nyata oleh karyawan. Menurut David, kita bisa mengkreasikan bentuk training dengan berbagai macam cara. Seperti training saat makan siang bersama atau meeting di tempat yang menyegarkan karyawan. Singkatnya training membutuhkan proses, bukan jika sudah di-training maka karyawan akan improve dengan sendirinya. Namun kedisiplinan para leader dalam melatih karyawannya secara terbuka juga sangat membantu untuk membuat tujuan training tersebut tercapai.

4. Adaptasikan Training

Ini yang mesti diperhatikan, sesuaikan pelatihan berdasarkan keperluan karyawan. Jangan terjebak dengan program-program yang terkesan ‘super’, namun essensinya tidak pas dengan culture perusahaan Anda. Untuk itu, biasanya sang trainer akan menganalisa terlebih dahulu keadaan perusahaan sebelum melakukan training. Karena belum tentu training A akan cocok dengan perusahaan Anda, di situ pentingnya observasi sebelum pelaksanaan. Selain buang waktu dan biaya, training yang salah sasaran hanya akan membuat perusahaan Anda merugi.

5. Penugasan Cross-functional

Menurut David Knowles, satu masalah yang ada di beberapa perusahaan adalah ‘silo’ mindset, dimana karyawan dalam satu divisi tidak tahu dan tidak peduli apa yang dijalankan oleh divisi lain. Padahal output dari satu divisi menjadi input untuk divisi lain.

Satu solusi yang disebutkan Lisa Ford adalah cross-functional assignment secara short-term (satu atau dua minggu). David mencontohkan jika seorang karyawan yang berasal dari accounting tidak ada salahnya ia masuk ke procurement untuk dua minggu, supaya bisa belajar bagaimana output dari accounting ke pekerjaan procurement.

Dari proses itu, kita akan belajar ‘empathy’ dengan kebutuhan ‘internal customer’, sehingga komunikasi dan koordinasi akan berjalan lebih baik. (*/@nurulmelisa)

zp8497586rq
Tags: