Menjadi Lebih Asertif di Tempat Kerja

Pernahkah Anda mengagumi rekan kerja Anda yang mampu mengontrol situasi yang mengancam dengan sikapnya yang profesional, terlepas betapa sulitnya situasi yang dihadapi tersebut?

Biasanya mereka yang seperti itu mampu menekan rasa marah dan frustasi mereka dalam proses pemecahan masalah dan tidak merasa puas dengan hasil yang sifatnya mengorbankan harga dirinya ataupun rekan-rekan lainnya. Hal inilah yang disebut dengan asertif..

Sederhananya, asertif adalah kondisi di antara agresif dan pasif. Mereka yang agresif cenderung lebih menginginkan cara sesuai yang dia inginkan, sedangkan mereka yang agresif cenderung tidak punya kuasa dan membiarkan orang lain mengambil keuntungn dari dirinya. Sedangkan mereka yang asertif, mencari win-win solution dari suatu permasalahan.

Banyak orang menemukan bahwa menjadi asertif adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Hal ini disebabkan karena dalam kondisi tersebut Anda dituntut untuk dapat menekan namun dengan cara yang halus. Untuk menjadi seseorang yang asertif, dibutuhkan kemampuan dan waktu untuk melatihnya. Meskipun tidak sebentar, namun hal ini patut Anda latih untuk menghadapi permasalahan yang Anda hadapi di kantor. Berikut Mashable memberikan contohnya.

Situasi 1: Mengemukakan Ide

Tim Anda diberikan tugas untuk membuat strategi penjualan yang baru, dan Anda memiliki ide cemerlang untuk hal tersebut. Lalu kemudian tim melakukan meeting untuk mendiskusikannya dan Anda berniat untuk mengutarakan ide Anda.

– Pendekatan Pasif: Anda menunggu boss Anda untuk mengemukakan ide, lalu cenderung setuju-setuju saja. Ide cemerlang yang semulanya ada di pikiran Anda hanya tetap bertahan di pikiran.

– Pendekatan Agresif: Anda langsung mengemukakan ide cemerlang Anda tepat setelah boss Anda bertanya. Setiap ada orang yang ingin memberikan saran Anda cenderung menolaknya tanpa memikirkan perasaan mereka.

– Pendekatan Asertif: Anda mendengarkan berbagai macam pendapat, Anda melihat kelebihan dan kekurangan dari ide yang ada, dan berusaha menutupi kekurangan dengan ide yang Anda miliki.

Jika Anda melakukan pendekatan asertif, Anda akan memberikan tambahan informasi yang didapatkan dari sudut pandang orang lain dan mendukung ide Anda dengan alasan yang logis, dibandingkan emosi. Anda dapat berkontribusi dalam diskusi tanpa membuat anggota tim lain merasa terganggu,

Situasi 2: Meminta Kenaikan Gaji

Setelah menanyakan seputar kenaikan gaji sebelumnya, Anda cenderung tidak mendapatkan kepastian. Meskipun pada saat ini bukan jadwalnya perusahaan membahas tentang kenaikan gaji, namun boss Anda menyatakan bahwa performa kerja Anda baik dan akan dipertimbangkan mengenai gaji Anda, namun ketika waktunya tepat.

– Pendekatan Pasif: Anda menelan kekecewaan Anda, berkata bahwa hal tersebut tidak apa-apa. Namun di belakangnya Anda terus-terusan membahas hal tersebut terus-terusan.

– Pendekatan Agresif: Anda langsung menyatakan bahwa Anda akan mencari kesempatan tersebut di tempat lain, di mana seseorang seperti Anda akan lebih dihargai.

– Pendekatan asertif: Anda menghargai diri Anda sendiri dengan menanyakan alasannya secara baik-baik. Anda memikirkan performa kerja Anda, target yang sudah Anda capai dan sebagainya sebagai bahan agar dapat dipertimbangkan.

Dalam pendekatan asertif, Anda lebih menunjukkan resiliensi Anda dibandingkan sikap proaktif Anda, dengan sikap yang baik, dewasa dan tetap berkomitmen pada perusahaan.

Situasi 3: Menjadi Pemimpin Tim

Ada anggota tim Anda yang kerap kali bolos meeting, laporan yang diberikan berantakan, dan kerap kali datang terlambat. Sudah banyak anggota tim yang komplain kepada Anda. Ini saatnya Anda yang turun tangan.

– Pendekatan Pasif: Ketika ia memberikan laporannya, dan masih berantakan, Anda kemudian merapikannya sendiri. Lalu membahas performanya yang buruk dengan rekan-rekan Anda ketika ia tidak ada.

– Pendekatan Agresif: Menyalahkan dia ketika laporannya berantakan. Mengatakan bahwa ia bodoh dan tidak akan orang yang mau merekrutnya. Lalu di akhir Anda menambahkan, bahwa masih untung dia bertahan dalam tim karena Anda.

– Pendekatan asertif: Anda berbincang dengannya secara personal, menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan tidaklah memuaskan. Menanyakan apakah ada masalah, apa masalah yang dihadapi, atau apa instruksi yang diberikan sudah jelas ataukah belum. Siapa tahu memang dia ada masalah lain, atau tidak memahami instruksi yang diberikan.

Anda mampu mengendalikan situasi, tidak membuat permasalahan semakin besar dan mampu memperbaiki laporan dan performa kerja anggota tim Anda.

Baca juga: Anda Pemimpin? Hindari jebakan kepemimpinan ini

Tags: ,