Mengelola Karyawan Workaholic

Pekerja keras dengan workaholic memiliki pengertian yang berbeda. Secara umum workaholic adalah istilah untuk orang-orang yang bekerja terlalu berlebihan. Kecanduan bekerja tersebut dapat berakibat terhadap kesehatan seperti gejala stres, frustasi dan juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial.

Orang Jepang melahirkan sebuah istilah ‘Karoshi’ yang berarti kematian akibat terlalu banyak bekerja. Sementara para ahli di Norwegia telah mengembangkan The Bergen Work Addiction Scale untuk mengukur seberapa banyak kebiasaan Karoshi menjangkiti Anda.

Yang menjadi masalah serius di sini yaitu pemujaan dari kerja keras menyamarkan dari dampak workaholic itu. Sehingga organisasi dan manajer kerap tidak melihat implikasinya.

Namun sebuah studi terbaru di Florida State University berupaya untuk memperbaiki masalah tersebut dengan menyarankan cara-cara praktis yang bisa diterapkan oleh para manajer untuk membantu karyawan workaholic tetap sehat dan prima dalam pekerjaan.

Wayne Hochwarter, Profesor dari Administrasi Bisnis di Florida state University mempelajari lebih dari 400 karyawan baik profesional maupun pekerja administratif di sana. Dan ia menemukan bahwa sebanyak 6 dari 10 karyawan teridentifikasi sebagai pecandu kerja yang mempunyai karakter “merasa bersalah saat mengambil cuti”.

Dari mereka juga dilaporkan konsekuensi atau resiko dari bekerja terlalu keras, baik dari sisi positif dan negatif. Misalnya, workholic ini memang kebanyakan memiliki usaha yang lebih keras dibandingkan pekerja lain, namun mereka mengalami lebih banyak ketegangan.

“Kami menemukan bahwa pada tingkatan tertentu gila kerja menghasilkan sebuah efektivitas kerja dan sehat. Namun jika sampai pada level di atas itu maka perusahaan dan karyawan cenderung menderita,” kata Hochwater.

Ada berbagai macam tipe workaholic dilihat dari sumber dayanya yaitu mereka yang memilliki sumber daya seperti rekan kerja, waktu istirahat, perlengkapan penunjang kerja dan mereka yang tidak memiliki semua itu.

Hocwarter mengatakan bahwa “kami menemukan para workaholic sangat berjuang ketika mereka merasa bahwa mereka sendirian seperti berenang di arus sungai tanpa dayung.”

Para workaholic yang memiliki sumber daya melaporkan bahwa 40% dari mereka lebih puas pada pekerjaannya, 33% memiliki tingkat kelelahan yang rendah, 25% memiliki pemenuhan karir yang lebih tinggi dan 20% memiliki frustasi kerja yang lebih rendah.

Di iklim ekonomi si epertsaat ini pekerja workaholic pasti tetap ada dan akan terus muncul, masalahnya bagaimana para manajer dapat mengendalikan mereka ke arah yang positif.

Yang pertama, mereka harus tahu sumber daya apa yang dibutuhkan oleh para pecandu kerja tersebut, baik dalam bentuk fisik maupun upaya sosial. Cari tahu akses apa yang akan meningkatkan kepada sumber daya yang mereka butuhkan dengan  cara yang wajar dan fair.

Para manajer sering berasumsi bahwa pecandu kerja hanya ingin melakukan apa-apa sendirian. Padahal dalam kenyataannya, menurut Hochwarter tujuan mereka bekerja adalah untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan, mencapai target diri, dan melihat bagaimana usaha mereka dapat dihargai dan tujuan-tujuan yang lebih mungkin dicapai jika sumber daya yang mereka perlukan terpenuhi.

Yang kedua, manajer harus memberikan ekspektasi yang realistis, karena mereka merupakan karyawan yang paling produktif. Sering kali para manajer memanfaatkan tenaga mereka sehingga mereka tidak bisa beristirahat. Para penggila kerja sering dijadikan pekerja tumpuan, di mana mereka menjadi objek deadline. Ditambah jika mereka dijanjikan sesuatu yang tidak pernah direalisasikan.

“Realistis dengan ekspektasi, baik pekerjaan mereka maupun diri mereka sendiri, itu penting, lanjut Hochwater. Dan menurutnya jika tanda-tanda kelelahan mereka diabaikan akan mengakibatkan hasil yang tidak diinginkan, penurunan kerja, hingga kematian.

Tags: ,