Kerja Baru 2 Hari Mau Resign? Ini Tipsnya

beige-316396_640

Anda baru memulai kerja dua hari di kantor baru, atau bahkan kurang dari itu. Tiba-tiba Anda merasa tidak sreg dengan pekerjaan Anda dan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang telah saya lakukan?”

Kemudian, Anda ingin sekali keluar dari pekerjaan tersebut secepatnya. Bahkan dalam hati yang terdalam Anda sudah yakin bahwa resign adalah keputusan terbaik yang bisa Anda ambil. Tetapi, melihat singkatnya waktu Anda bekerja, haruskah Anda benar-benar mengajukan resign?

beige-316396_640

(Sumber image: pixabaycom)

Risiko dan Keuntungan (Reward)

Jika Anda sudah mengajukan resign padahal baru beberapa hari kerja, kemungkinan Anda akan mendapati beberapa risiko baik itu yang berdampak jangka panjang maupun jangka pendek. Dan hal tersebut wajar saja terjadi. Setidaknya, berikut adalah beberapa konsekuensi yang harus Anda hadapai.

1. Anda akan membuat bos dan kolega marah

Mereka berpikir bahwa posisi lowong sudah terisi sehingga mereka bisa kembali mengerjakan tugasnya sendiri seperti biasanya. Namun, jika Anda memilih untuk resign, berarti mereka harus memulai semuanya dari awal lagi.

2. Kemungkinan Anda tidak bisa lagi bekerja pada perusahaan tersebut

Beberapa perusahaan memiliki kebijakan bahwa mereka tidak akan kembali merekrut karyawan yang bekerja kurang dari kurun waktu tertentu.

3. Anda dapat merugikan almamater atau departemen akademik Anda

Jika Anda karyawan magang dan Anda keluar dalam waktu yang relatif singkat, bisa jadi nama kampus ikut tercoreng. Organisasi tempat Anda bekerja akan memberikan anggapan buruk bahwa mahasiswa atau lulusan kampus Anda tidak mengapresiasi kesempatan yang mereka berikan.

4. Bisa jadi Anda telah menciptakan pola yang buruk untuk perjalanan karir Anda

Jika Anda sudah resign setelah dua hari bekerja, akan muncul pertanyaan, “Apa yang membuat Anda berhenti melakukan hal tersebut?”

Tetapi, di samping segala konsekuensi merugikan tersebut, ada sisi positif dari resign tersebut. Resign secepatnya adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan kondisi fisik dan mental Anda. Dan dengan alasan yang sama, Anda bisa menyelamatkan kesehatan mental bos Anda untuk jangka panjang. Bos Anda akan terbebas dari talent yang memang tidak semangat mengerjakan tugas kantor.

Apabila keputusan untuk resign sudah bulat, maka tidak ada gunanya mengulur terlalu lama. Untuk meminimalkan risiko tersebut di atas, ada beberapa cara dapat dilakukan.

1. Berbicara secara personal

Dalam situasi seperti ini, jangan pernah mengambil risiko berbicara melalui text, media sosial, sms ataupun telepon. Beranikan diri untuk menghadap langsung kepada bos atau atasan dan meminta izin dengan baik-baik. Dengan berbicara secara langsung, Anda dapat memberikan penjelasan yang memang masuk akal untuk keputusan Anda. Dengan begitu, boss pun tidak akan berprasangka buruk.

2. Jujurlah dan meminta maaf

Anda mungkin tertantang untuk mereka-reka atau membuat alasan palsu seperti, “nenek baru saja meninggal”, atau “saya harus kembali ke kampung halaman” dan berbagai alasan lainnya. Akan tetapi, pada saat seperti ini, kita sebaiknya berkata jujur. Ungkapkan kegalauan Anda secara jujur. Fokuslah pada kerugian yang akan timbul jika Anda tetap bertahan, bagi diri Anda sendiri dan juga bagi perusahaan.

3. Tawarkan untuk tetap bekerja hingga perusahaan menemukan pengganti

Keley Smith Keller, pimpinan dari Career Development Center University of South Dakota mengatakan bahwa salah satu kliennya pernah resign setelah bekerja hanya satu minggu. Ia duduk di hadapan atasannya dan berkata, “Saya bukan orang yang tepat untuk posisi ini dan tidak ingin membuang-buang sumber daya perusahaan dan juga biaya training yang dikeluarkan perusahaan.” Dengan pertimbangan tersebut, ia menawarkan diri untuk tetap bekerja hingga manajernya menemukan talent baru untuk menggantikan dia.

Setelah itu, klien tersebut meninggalkan perusahaan dan berganti kerja. Ia justru mendapat tanggapan positif dari perusahaan yang ditinggalkannya.

4. Berkomitmen untuk berpikir lebih hati-hati lagi ke depannya

Setelah melakukan kesalahan seperti ini, ke depannya, kita bisa meminta nasihat pada konsultan karir sebelum mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu tawaran kerja. Yang selalu harus diingat adalah bahwa kerja tidak hanya sesederhana mencari uang tetapi juga kepuasan yang menyehatkan kondisi psikologis dan fisik kita. (*)

Tags: , ,