Katakan Selamat Tinggal Pada To-Do List

Tak sedikit dari kita merasa selalu sibuk, atau berharap bahwa satu hari diisi dengan lebih dari 24 jam. Tetapi dengan kesibukan tanpa henti pun masih banyak ternyata pekerjaan pokok yang tidak terselesaikan. Atau, Anda adalah tipe orang yang malas bergerak, malas untuk mengerjakan tugas karena teralihkan dengan hal-hal yang membuat Anda senang dalam jangka pendek?

Cal Newport, dalam wawancaranya dengan bakadesuyo.com, memaparkan beberapa resepnya untuk mengurangi kemalasan. Dalam karirnya, Cal memang cukup produktif. Saat ini, ia adalah full-timer dosen di Georgetown University, dalam setahun, ia mereview atau menulis setidaknya 6 jurnal. Selain itu, ia juga merupakan penulis empat buku, salah satunya adalah “So Good They Can’t Ignore You”, seorang ayah dan juga penulis blog yang rutin mengisi blognya.

1. Jangan membuat to-do List, buatlah jadwal yang rinci

To-do list itu tidak ada gunanya, seharusnya kita memberikan petunjuk waktu dalam setiap aktivitas yang harus kita kerjakan. Tujuannya adalah agar kita menjadi lebih realistis dan dapat melihat seberapa banyak pekerjaan yang dapat kita selesaikan. Cal mengungkapkan, “penjadwalan memaksa Anda untuk berkonfrontasi dengan realitas tentang seberapa lama waktu yang sebenarnya Anda miliki dan berapa lama sebuah aktivitas akan berlangsung. Selain itu, kita juga menjadi mungkin untuk memanfaatkan waktu-waktu kosong di sela-sela kesibukan kita serta bisa mengerjakan sesuatu di saat yang tepat, bukan menumpuk mereka dan mengerjakannya saat mendekati deadline”.

Penjadwalan juga penting untuk mengurangi penundaan. Karena, setelah ada jadwal, Anda tidak perlu berpikir untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan tugas Anda. Semuanya sudah tercatat lengkap dalam jadwal. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah penjadwalan ini tidak terlalu mekanis sehingga berpengaruh pada kebahagiaan kita dalam menjalani hidup? Menurut sebuah riset, ternyata menjadwalkan aktivitas yang akan dilakukan pada freetime justru berpengaruh positif pada quality of life.

Baca juga: 7 Langkah Menghindar dari Rasa Malas

2. Perkirakan Anda akan selesai bekerja jam 5.30, lalu buat jadwal dengan merunut ke belakang

Selalu ada batasan dalam menciptakan work/life balance. Salah satunya adalah waktu kerja, di mana kita hanya mempunyai 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Seburuk-buruknya batasan, ia masih memiliki sisi positif. Setidaknya, dengan keterbatasan tersebut kita menjadi lebih efisien.

Pasang deadline pada jam 5.30 pm. Setelah itu, runut ke belakang dengan memasang kegiatan apa saja yang harus diselesaikan sebelum deadline tersebut. Pastikan bahwa semua agenda fisibel untuk dicapai. Setalah itu, Cal menyarankan agar kita fokus, mengesampingkan hal-hal yang tidak perlu meskipun itu mengharuskan kita untuk sedikit sulit dihubungi atau mengecewakan orang lain. Untuk menghindari perasaan kewalahan dengan jadwal yang padat, kita dapat memainkan mindset bahwa sebenarnya, kitalah yang mengontrol jadwal tersebut, bukan sebaliknya.

3. Membuat perencanaan selama seminggu penuh

Dunia membutuhkan orang-orang yang bisa berpikir jangka panjang. Dan hanya orang-orang yang memikirkan tentang “besok” yang akan menjadi terdepan dalam kompetisi. Cal memaparkan, “Saya tahu apa yang saya lakukan hari ini, apa yang saya lakukan setiap hari di setiap minggu dan setiap minggu dalam satu bulan”. Hal ini mungkin terlihat rumit, tetapi sebetulnya simpel. Yang kita perlukan hanyalah mendata semua to do-list kita pada hari Senin, kemudian memasangnya dalam jadwal-jadwal harian selama satu minggu.

4. Pilih beberapa hal saja untuk dilakukan, tetapi pastikan Anda hebat dalam hal itu

Adakalanya kita menyanggupi semua jenis pekerjaan, padahal belum tentu hal tersebut penting bagi kita. Dampaknya, kita akan merasa bahwa kita sangatlah sibuk dengan tugas ini itu. Sebaiknya, kita mulai memilah dan menganalisis, pekerjaan apa saja yang sebenarnya mendatangkan nilai pada hidup Anda. Setelah itu, pastikan bahwa Anda melakukannya sebaik mungkin. John Robinson, seorang periset dalam pemanfaatan waktu di Amerika mengungkapkan bahwa rata-rata orang Amerika, bahkan di seluruh dunia, merasa telah bekerja keras padahal sebenarnya tidak demikian. Menurut jurnal/diaries yang ia teliti, lama waktu kerja karyawan justru semakin berkurang dan waktu-waktu mereka dialokasikan pada hal-hal yang sifatnya leisure atau bersenang-senang.

5. Kurangi pekerjaan ecek-ecek, tambahlah yang penting-penting

Cal mengelompokkan jenis pekerjaan menjadi shallow (dangkal) dan deep (dalam). Pekerjaan yang sifatnya dangkal adalah jenis pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan talent kita, misalnya mengirim email, memforward informasi dan meeting. Sedangkan deep work adalah jenis pekerjaan yang memerlukan pemikiran, bakat dan kemampuan kita sehingga menelurkan solusi maupun inovasi.

Sayangnya, kebanyakan orang tenggelam dalam pekerjaan yang sifatnya shallow. Pekerjaan-pekerjaan yang dangkal tersebut memang mencegah Anda dari pemecatan, tetapi pekerjaan yang deep akan membantu kita mendapat promosi.

Baca juga: Gen Y Pemalas yang Tak Punya Motivasi?

Tags: