Jangan Ragu Katakan Tidak pada Rekan Kerja

“A ‘no’ uttered from the deepest conviction is better than a ‘yes’ merely uttered to please, or worse, to avoid trouble.” Mungkin benar pameo yang diungkapkan Mahatma Gandhi tersebut bahwa lebih baik kita mengatakan “tidak” yang dari dalam hati, daripada mengatakan “ya” hanya untuk sekedar menyenangkan orang atau menghindari masalah.

Adakalanya kita berhadapan dengan dua pilihan atau lebih. Misalnya saja antara pekerjaan kantor, seperti meeting, dengan urusan rumah tangga yang sangat penting misalnya mengantar orang tua ke rumah sakit. Dalam hati, mungkin sebetulnya kita ingin mementingkan keluarga, tetapi dengan alasan tidak enak dengan rekan kerja kita lalu mengatakan “ya” ketika diajak rapat.

Sebetulnya, ketika kita bicara “ya” padahal “tidak”lah yang kita inginkan, akan tergambar di wajah kita bahwa kita melakukannya dengan terpaksa. Dan lagi, seperti yang diungkapkan dalam hbr.org, perasaan tidak enak bicara “tidak” hanya akan menyelamatkan kita dalam waktu singkat, tetapi menyimpan masalah dalam jangka panjang. Intinya, kita harus berani memprioritaskan hidup kita, atau orang lain yang akan mengambilnya.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menghindari kesalahan, mengatakan “ya” untuk sesuatu yang tidak ingin kita kerjakan:

  1. 1. Memisahkan antara mengambil keputusan dengan hubungan interpersonal.

Ketika seseorang meminta kita untuk melakukan sesuatu, kadang kita mempertimbangkan hubungan baik yang mungkin akan terancam jika kita mengatakan “tidak”. Padahal, apabila kita cukup jeli, kita dapat membagi pertanyaan permintaan tersebut menjadi dua hal terpisah. Yang pertama adalah “Apa keputusan yang terbaik?” dan yang kedua adalah “Bagaimana menyampaikan keputusan tersebut dengan baik?”. Dengan menjawab dua pertanyaan tersebut, maka akan lebih mudah bagi kita untuk memilih prioritas.

2. Perhatikan bahasa yang kita gunakan.

Sering kali kita berucap, “saya harus menyelesaikan tugas ini”, atau “saya harus mengirimkan email ini.” Daripada demikian, mungkin kita dapat mengubah kata “harus” menjadi “memilih untuk”. Mungkin terdengar agak janggal, tetapi kata “harus” membuat segalanya seperti tidak dapat dinegosiasikan lagi. Lain halnya jika kita melihat itu sebagai pilihan, artinya kita masih memiliki kebebasan untuk membuat keputusan yang berbeda. Bukan berarti kita menganggap itu tak penting, tetapi lebih pada mempertimbangkan tingkat prioritasnya.

3. Hindarilah bekerja dengan orang yang tidak menghormati prioritas kita.

Karakter orang berbeda-beda satu dengan yang lain. Dalam hal menjalin pertemanan atau hubungan kerja, hendaklah didasarkan pada sikap penghargaan terhadap kepentingan orang lain sehingga kita dapat menjalankan prioritas hidup kita dengan wajar.

 

Tags: