Ingin Sukses di Socmed, Hindari Memposting Hal-hal Berikut

social media

Dalam dunia kerja, peranan social media seperti facebook atau twitter, layaknya dua mata pisau. Jika kita tidak berhati-hati, keberadaan justru akan membahayakan karir professional kita. Berikut adalah beberapa kejadian di mana sosial media justru menjadi bumerang yang tidak tepat sasaran, dilansir dari theundercoverrecruiter.com:

1. Tweet yang “terlalu bersemangat”

Tertarik terhadap sebuah tawaran kerja adalah hal yang positif. Tetapi ketika itu diekspresikan secara berlebihan, hal tersebut justru akan merugikan diri sendiri. Terlebih apabila tawaran tersebut masih belum pasti. Connor Relay mengabarkan sebuah berita gembira di social media yang justru berbalik menjadi berita buruk baginya. Di akun twitternya ia menuliskan,

“Cisco just offered me a job! Now i have to weigh the utility of a fatty paycheck against the daily commute to San Jose and hating the work”.

Pada saat ia memposting tweet tersebut, ia bahkan baru sampai pada tahap interview dan belum dinyatakan diterima. Akhirnya, Cisco justru memilih orang lain untuk mengisi posisi yang lowong di kantornya setelah melihat keragu-raguan Connor. Pelajaran yang dapat diambil adalah, jika kita ingin menyebarkan kabar gembira, pastikan dulu apakah tweet tersebut akan membuat calon bos senang atau justru sebaliknya.

2. Bergosip tentang hal-hal yang menyinggung orang secara personal

Kisah sedih ber-social media juga dialami oleh Nicole Crowther. Beberapa kali ia muncul di serial TV Glee sebagai figuran, sebelum akhirnya karir keartisannya kandas hanya karena ia salah melontarkan tweet di social media. Melalui akun twitternya, ia membeberkan plot dari serial televisi tersebut. Sialnya, tindakan spoiler tersebut diketahui oleh sang penulis cerita dan juga sutradara, Brad Falchuck. Melalui akunnya, Fachuck membalas,

“@nicolecrowther hope you’re qualified to do something besides work in entertainment”

Balasan tersebut juga sekaligus menjadi akhir karir Nicole di Glee.

3. Balas dendam atas perlakuan seseorang

Bekerja untuk melayani konsumen mungkin akan menjadi sangat menyenangkan apabila konsumen kita adalah seorang selebritas yang digandrungi banyak orang. Namun, kejadian tidak menyenangkan dialami oleh Jon-Barret akibat tweet yang ia posting. Dalam akunnya, ia memaki Jane Adams, seorang artis HBO karena tidak membayar tagihan makanan yang ia pesan dan tidak memberikan tip kepada pelayan.

“Tues: Jane Adams, star of HBO series Hung skipped out on a $13.44 check. Her agent called and payed the following day. NO TIP!!!”

Berkat tweet-nya tersebut, Jon si pelayan restoran dipecat karena membeberkan aib si artis dan mengeluh tentang tip yang ia dapatkan.

4. The mother of all oops

Dalam berbahasa sehari-hari kadang kita menggunakan kata seruan yang bagi kebanyakan orang dianggap kasar. Kata-kata tersebut kita gunakan dalam konteks personal dan non-professional. Namun apa jadinya jika tanpa sengaja, kita memaparkan kata kasar tersebut di akun profesional?

Scott Bartosiewicz dulunya adalah seorang media strategist untuk sebuah agensi social media. Tetapi sekarang tidak lagi karena dia sudah dipecat. Penyebabnya sepele, salah posting. Tanpa sengaja, ia memposting di akun resmi Chrysler Autos, kata-kata yang seharusnya ia posting di akun pribadi. Lebih buruknya, ia menggunakan kata kotor yang membuat orang akan berkata “oops!”

5. Terlalu berlebihan dalam menambah teman di social media

Seorang karyawan dipecat dari perusahaan karena ketahuan membicarakan boss-nya di social media. Kadang kita tidak menyadari bahwa orang yang sedang kita cela di belakang tersebut berteman dengan kita dan akan membaca posting kita dari akun mereka.

6. Mencoba-coba hal gila dan mempostingnya di social media

Kadang batas antara dunia professional dengan personal itu sangat samar. Seorang karyawan swalayan dipecat karena ia bertingkah konyol sewaktu bekerja. Ia berbaring di atas dua etalase, berfoto dengan pose tersebut dan mempostingnya online.

7. Menuliskan “guyonan” politis yang tidak sewajarnya

Di UK, guyonan atau jokes dianggap sebagai hal lumrah yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Namun, ketika gurauan tersebut tidak disampaikan dengan cara yang tepat dan dilakukan oleh orang berpengaruh, hal buruk bisa saja terjadi. Misalnya sebuah tweet guyonan yang dilontarkan seorang politikus Stuart MacLennan menjadi penentu karirnya (tidak menjadi lebih baik) di masa depan. Ia membuat jokes tentang fair trade, dengan kata kotor dan menyinggung perbudakan.

 

Foto: socialsearchmobile.org

 

Tags: , , ,