Gen Y Kutu Loncat, Bagaimana Mencegah Mimpi Buruk HR

Sebuah laporan dari biro statistik pekerja Amerika menyampaikan bahwa rata-rata lamanya seorang karyawan bekerja di sebuah perusahaan hanya sampai 4,4 tahun. Namun ternyata bagi karyawan muda, masa abdi mereka bahkan kurang dari setengahnya.

91% dari generasi millenials (kelahiran tahun 1977-1997) mengaku berharap stay di pekerjaan kurang dari 3 tahun, menurut survei yang  melibatkan 1.189 karyawan dan 150 manajer tersebut. Dan itu berarti mereka akan memiliki sekitar 15-20 pekerjaan sepanjang hidup mereka.

Sebenarnya apa yang mereka harapkan dari lompat pekerjaan tersebut? Menurut ulasan Jeanne Meister di Forbes, bagi pelamar kerja, ketidakstabilan pekerjaan dalam resume hanya akan mengantarkan Anda pada kegagalan mendapatkan pekerjaan yang diimpikan. Karena selama bertahun-tahun para ahli memegang prinsip bahwa mereka harus menghindari ‘kutu loncat’ pada saat proses perekrutan. Mereka akan lebih tertarik dengan karyawan yang memiliki masa pekerjaan lebih lama di sebuah perusahaan.

Biasanya para manajer akan lebih kritis bagi pelamar yang baru 1-2 tahun bekerja. Mereka akan mempertanyakan apa motivasi pelamar, tingkat keterampilan mereka dan keterlibatan mereka selama bekerja hingga kemampuan mereka bergaul dengan rekan kuliah mereka dulu.

Kewaspadaan itu menunjukkan kekhawatiran para HR untuk tidak menjadi korban selanjutnya bagi pelamar hit-run tersebut. Kerugian lainnya bagi perusahaan yang kehilangan karyawan setelah setahun bekerja adalah kemubaziran waktu dan uang yang dihabiskan untuk men-training mereka. Dan satu lagi, para HR berpendapat bahwa karyawan tidak mempunyai banyak waktu belajar jika mereka hanya bekerja kurang dari 1 tahun.

Keuntungan dari Job Hopping

Untuk lulusan perguruan tinggi, lompat-lompat dalam pekerjaan dapat mempercepat kemajuan karir. Menurut sebuah riset dari Departemen Sosiologi St. Olaf berjudul “Hiring, Promotion, and Progress: Millenials Expectations in the Workplace”, berpindah pekerjaan dan mendapatkan promosi tersebut dapat menghindari gen Y dari proses stagnan dalam karir mereka. Para gen Y tidak perlu mendaki terlalu lama untuk menduduki level tertentu karena lompatan dari satu perusahaan ke perusahaan lain tersebut.

Dengan lompat-lompat tadi mereka juga akan memiliki pekerjaan yang mereka harapkan, hal itu penting bagi gen Y dibanding generasi sebelumnya. Karena menurut survei dari Net Impact 88% dari mereka memilih pekerjaan berdasarkan budaya yang positif sekaligus perusahaan impian mereka dan 86% memilih pekerjaan berdasarkan hal yang membuat mereka tertarik. Dengan job hopping itu mereka dapat mencapai dua tujuan tersebut. Karena mereka dapat mencoba berbagai peran sambil belajar keterampilan yang baru lagi.

Fenomena  ini juga berpengaruh terhadap perekonomian. Mereka tidak takut untuk lompat dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya karena menganggap diri mereka ‘pekerja bebas’. Ditambah mereka melihat orang tua mereka yang mengalami PHK dan terlalu bergantung dengan 1 tempat karir, dengan Job Hopping mereka akan bertahan dari dampak kebijakan seperti itu.

Namun perlu mereka ketahui bahwa dengan begitu mereka tidak memiliki ketidakamanan finansial dibandingkan generasi sebelumnya, terutama baby boomers. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa di situlah perbedaannya, di mana para baby boomer memilih untuk memperoleh kestabilan ekonomi, perlindungan keluarga dan keamanan, sementara generasi millenial lebih mencari kebahagiaan dan kepuasaan dalam kehidupan kerja mereka.

Lalu bagaimana para HR menghadapi tren Job Hopping yang menurut Gen Y menguntungkan tersebut, berikut 3 tips untuk mencegah karyawan muda Anda meloncat-loncat:

1. Tawarkan Fleksibilitas di Tempat Kerja

Menurut penelitian yang dilakukan Future Workplace, jam kerja yang fleksibel dan kebijakan teleworking lebih penting daripada gaji. Untuk menjaga karyawan Anda agar bertahan selama lebih dari satu tahun, berikan mereka kesempatan untuk bisa menyesuaikan jadwal mereka ketika dalam situasi yang mereka butuhkan. Jangan menyulitkan mereka dengan proses pengambilan cuti liburan, administrasi, dll.

2. Dengarkan Karyawan Anda

Agak berbeda dengan generasi sebelumnya, gen Y adalah pekerja yang mendambakan kesempatan untuk berkontibusi lebih terhadap tempat mereka bekerja. Mereka senang mengeluarkan ide-ide dan ingin sekali didengar, kira-kira begitu hasil survei dari future workplace. Dengan mendapatkan itu otomatis akan membantu mereka berkembang secara profesional di setiap posisi ,dan akan menarik mereka lebih lama di sana. Karena salah satu alasan mereka stay adalah mendapatkan pengembangan diri yang mereka inginkan.

3. Komunikasikan Misi & Nilai Perusahaan

Karyawan ingin bekerja di sebuah perusahaan yang mempunyai nilai yang sesuai dengan mereka. 58% responden yang dilibatkan dalam survei Net Impact mengatakan bahwa mereka rela dipotong gajinya sebesar 15% asalkan mereka mendapatkan tempat karir yang sesuai dengan nilai mereka.

Untuk itu, jika Anda ingin memaksimalkan pengabdian kerja mereka, pastikan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan pada saat proses perekrutan. Jika pelamar tahu siapa organisasinya dan untuk apa mereka mengejar posisi di perusahaan Anda, mereka akan menetap lama karena nilai-nilai tadi.

Bagi para praktisi HR jangan terlalu khawatir dengan fenomena ini, banyak perusahaan yang menganggap job hopping ini adalah hal yang wajar. Terbukalah dengan mereka dan rengkuh manfaat dari kelebihan mereka. Sudah banyak perusahaan yang mempekerjakan mereka dan berhasil.

Tags: , ,