Follow Up Setelah Wawancara Kerja

Keraguan kadang hinggap di dalam pikiran pelamar kerja. Apakah kita perlu mengirimkan email kepada para perekrut setelah diwawancara. Terlebih jika posisi tersebut sudah kita incar dan tidak sabar untuk menanti kapan saatnya dipanggil kembali oleh perekrut.

Namun sering kali kita bimbang, pantaskah follow-up dilakukan mengingat proses hiring masih berjalan. Apakah hal itu akan menambah ketertarikan perekrut atau justru menganggu proses perekrutan. Simak cara-cara yang bisa Anda lakukan menurut beberapa ahli HR setelah Anda melalui proses interview:

1. Lebih Cepat Lebih Baik

Kandidat tidak perlu takut untuk menindaklanjuti proses wawancara yang telah dilakukan. Menurut Chris Havrilla, Penulis Blog dan HR Konsultan, pelamar yang merespon dengan cepatlah yang benar. “Dengan melakukan follow up cepat maka Anda tidak hanya terlihat menghargai waktu, namun juga menunjukkan seberapa tertariknya Anda dengan pekerjaan yang Anda lamar. Itu hal bagus,” ujar Chris.

Kevin W. Grossman menambahkan bahwa perekrut tidak mempunyai waktu untuk selalu mem-follow-up dengan note atau tulisan. “Untuk itu sebaiknya kandidat jangan ragu untuk menanyakan statusnya. Walaupun hal itu bukan hal yang ingin Anda dengar,” ujar Chief Strategy Officer di Brave New Talent.

Sementara itu dalam polling yang dilakukan CareerBliss mengenai seberapa cepat para pelamar melakukan follow up,  39% responden menjawab mereka melakukan follow up setelah wawancara kurang dari 24 jam. Sementara 61% menjawab 2-3 hari setelah wawancara bahkan tidak melakukan follow up apa-apa. Jika Anda benar-benar ingin beruntung, tunjukkan antusiasme Anda pada perekrut sebaik mungkin.

2. Tulis Email Dengan Padat, Singkat dan Personal

Umumnya aturan praktis untuk menulis email dengan baik tidak lebih dari 3 paragraf. Dalam setiap paragraf hanya berisi  2-3 kalimat. Sebaiknya email itu terdiri dari :

–          Paragraf pertama: Secara singkat mengucapkan terima kasih atas waktu dan menegaskan kembali minat Anda pada posisi yang Anda inginkan.

–          Paragraf kedua: Sampaikan kekuatan Anda dan yakinkan bagaimana perusahaan akan mendapatkan keuntungan bila Anda dipekerjakan. Berdasarkan pengalaman kerja dan skill yang Anda punya.

–          Paragraf ketiga: Sertakan jawaban yang Anda belum jawab secara puas saat wawancara. Dan menambah informasi penting guna menarik perekrut. Tapi ingat tetap ditulis secara singkat.

Menurut Konsultan Karir, Vicky Oliver selain 3 hal di atas, kandidat bisa menambahkan tenggat waktu yang diharapkan. Seperti, “Saya berharap mendapat kabar dari Anda dalam waktu 2 minggu ke depan,” ujar Oliver.

3. Periksa Kembali Email Anda

Pastikan ejaan nama pewawancara, judul dan alamat perusahaan tidak salah. Mungkin ini hal kecil namun penting. “Kesalahan penulisan atau ejaan mungkin terlihat sederhana tetapi akan menunjukan kecerobohan kandidat,” ujar Oliver.

4. Sertakan Jejaring Professional Anda

Di era perekrutan secara digital saat ini, memiliki personal “brand” online adalah cara yang cukup efektif. Lihat bagaimana mengolah reputasi online Anda untuk meningkatkan karir Anda. Jika Anda rajin menulis blog, sertakan tulisan yang relevan dengan posisi yang Anda lamar. Atau setidaknya beritahu akun LinkedIn Anda. Hal itu akan menunjukan reputasi online Anda setelah wawancara. Dan bisa jadi hal itu akan menjadi faktor penentu dalam mengamankan pekerjaan yang Anda lamar.

5. Tetap Sportif

Setelah Anda mendapatkan balasan bahwa posisi itu sudah terisi orang lain, maka Anda sebaiknya tetap mengirimkan email balasan “terima kasih” untuk menghargai usaha Anda. “Mungkin hal itu tidak akan menjadikan Anda dipanggil kembali, namun itu bisa menjadi sesuatu yang bisa membedakan Anda dengan kandidat yang lain,” ujar Chris Havrilla. Balas dengan sederhana ucapan terima kasih atas waktunya dan sertakan ketertarikan Anda jika ada peluang di lain waktu. “Bukan hal yang tidak mungkin, dalam waktu sebulan Anda yang dipanggil untuk mengisi posisi yang kosong,” tutur Harvilla.

Tags: , ,