Berhemat Pasca Kenaikan BBM

Terlepas dari berbagai protes yang terus bergulir, kenaikan BBM telah menjadi kenyataan dan mau tidak mau harus ditelan bersama-sama oleh masyarakat Indonesia –mungkin sebagai pil pahit. Dampaknya pun langsung dirasakan: tarif angkutan umum baik, begitu pula dengan barang-barang kebutuhan. Bagi dunia usaha, ini merupakan tantangan yang berat. Banyak perusahaan yang menjadikan kenaikan harga BBM ini sebagai momen untuk meminta karyawan untuk lebih berhemat dalam memanfaatkan berbagai fasilitas kantor.
Namun, bersamaan dengan itu, sebaiknya perusahaan juga menyadari beratnya beban yang harus ditanggung karyawan akibat kenaikan harga BBM. Oleh karenanya, perusahaan bisa "mengkompromikan" dua sisi tersebut dengan menaikkan tunjangan harian (uang makan, transpor dll) untuk karyawan, sambil meminta karyawan untuk melakukan penghematan. Upaya ini bisa dimulai dari hal-hal kecil, namun sekiranya berdampak cukup besar terhadap efisiensi perusahaan.
Apa saja yang bisa dihemat? Berikut tipsnya.
1. Habiskan air putih, kopi maupun teh yang kita ambil dari pantri. Jangan disisakan sehingga harus dibuang percuma oleh office boy.
2. Hemat listrik, dengan cara:
— jangan pernah lupa mematikan komputer sebelum pulang
— jangan biarkan komputer menyala tanpa dipakai; jika ada meeting cukup lama, matikan dulu saja.
3. Hemat tinta. Nge-print-lah secara bijak: jika benar-benar perlu.
4. Hemat telepon. Efektif dalam menggunakan telepon, gunakanlah secara bijaksana untuk kebutuhan kantor.
5. Hemat bandwithd.
— bijaksana dalam browsing: hindari youtube dan sejenisnya sebisa mungkin.
— jangan mengirim email dengan attachement untuk jaringan internal kantor. Kalau ada file berukuran besar yang perlu di-sharing, taruh saja di server atau lewat flashdish.
6. Hemat BBM. Jika pergi meeting, usahakan sebisa mungkin menggunakan mobil kantor dan hindari naik taksi.
Berbagai penghematan itu akan lebih efektif jika dibarengi dengan kesadaran untuk bekerja lebih bersemangat, antusias, cerdas, ulet dan keras. Jangan beri kesempatan rasa malas, keluhan, dan sejenisnya merongrong jiwa karyawan.