Berapa Kali Kesalahan dalam Karir Dianggap Terlalu Banyak?

Umur saya 33 tahun dan sudah banyak melakukan kesalahan dalam karir. Saya lulus dari jurusan marketing, tetapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai bidang dan akhirnya bekerja sebagai admin di perusahaan akuntansi. Setelah 3 tahun bekerja di tempat tersebut, saya merasa menginginkan sesuatu yang baru sehingga akhirnya saya pindah ke perusahaan lain. Bukan ke marketing tetapi bagian sales. Empat tahun kemudian saya pindah dan masih dalam posisi sales meskipun industrinya berbeda. Hingga sekarang, saya membenci apa yang saya lakukan. Ingin mencoba profesi lain tetapi tidak memiliki background pendidikan di sana. Apakah masih ada kesempatan bagi saya untuk kembali ke jalur yang seharusnya dan mendapat pekerjaan yang dapat memuaskan saya? Atau memang saya sudah terlalu banyak berbuat kesalahan dalam karir?

Pengalaman yang sama mungkin pernah terjadi pada diri kita. Salah satu pemilik akun Linkedin tersebut mengeluh tentang career path-nya yang tidak memuaskan. Mungkin pertanyaannya yang harus diganti, bukan, “Apakah sudah terlalu banyak kesalahan yang saya perbuat?”, melainkan “Kapan saya sampai pada titik dimana saya mempunyai kontrol atas karir saya?”

Itu Bukan Kesalahan, Melainkan Pengalaman Yang Tidak Berjalan Sesuai Rencana

Jutaan orang mungkin pernah mengalami hal tersebut. Mencari kerja dengan satu harapan tetapi hasil akhirnya melenceng dari apa yang diinginkan. Pengalaman kerja yang mereka miliki, tidak berjalan sesuai rencana. Pengalaman sebetulnya bukanlah suatu kegagalan. Hanya saja, pengalaman tersebut memang berpotensi membuat kita krisis percaya diri, sehingga ketakutan mencoba hal baru.

Apa Masalahnya? Kamu Belum Tahu Apa yang Kamu Mau

Ketika mendapatkan suatu pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan kepada kita, sebetulnya kita juga memperoleh gambaran tentang pekerjaan seperti apa yang tidak kita inginkan di masa mendatang. Meskipun demikian, pengalaman tersebut tidak lantas memberikan petunjuk mengenai pekerjaan apa yang benar-benar kita inginkan. Padahal untuk dapat menikmati pekerjaan, kita harus benar-benar tahu apa yang kita inginkan. Untuk itulah penting bagi kita untuk mengetahui “goal” dari karir kita sehingga semakin mantab menapaki jenjang karir.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kita coba ketika menghadapi ketidakjelasan karir seperti situasi di atas,

1. Pastikan bahwa career goal atau tujuan karir kita realistis. Beberapa orang memiliki cita-cita untuk menjadi CEO atau memiliki gaji ratusan juta di usia 30 tahun. Hal itu tidak selalu mungkin terjadi. Media telah begitu obsesif menggambarkan kesuksesan Zuckerberg di usia muda sebagai seorang CEO. Sedikit banyak, pemberitaan tersebut membuat sebagian orang menetapkan target-target karir yang tidak realistis pada usia-usia tertentu.

2. Mencari seorang mentor. Langkah kedua adalah dengan mencari seseorang untuk dijadikan mentor. Kita mencari orang yang memiliki profesi seperti yang kita inginkan. Jika kita tidak memiliki kenalan orang-orang tersebut, maka kita bisa memanfaatkan Linkedin. Pertama-tama kita daftar perusahaan-perusahaan yang kita kagumi. Lalu cari tahu siapa yang orang menjabat di posisi yang kita inginkan. Jika kita tidak kenal, kita bisa menghubungi lewat Linkedin atau jalur lain. Jadikan mereka mentor untuk memberikan gambaran tentang hal-hal apa yang harus kita persiapkan untuk smpai pada posisi seperti mereka.

3. Jangan takut untuk mengambil risiko yang sebenarnya bisa dikalkulasi. Kita tidak akan mengalami peningkatan atau hasil yang baru jika kita tidak melakukan hal yang berbeda. Manfaatkan pengalaman sebagai media pembelajaran untuk mencoba sesuatu yang baru. Dengan adanya trial-and-error, kita akan lebih cerdas mengambil keputusan dalam berkarir. Gunakan rasa sakitmu sekarang sebagai pendorong untuk maju, bukan malah membuatmu berhenti berusaha.

Pada dasarnya, kesalahan yang pernah kita perbuat adalah pengalaman. Namun jika kita tidak bisa belajar dari pengalaman tersebut, selamanya itu akan tetap menjadi kesalahan.