Awas! Terlalu Sibuk Bisa Menghambat Kreativitas

budapest-525857_640

Dari mulai Vincent Van Gogh hingga Kanye West, pikiran tentang si perenung atau sosok yang “menyiksa” dirinya untuk mendapatkan inspirasi telah terpampang dalam imajinasi populer setiap orang. Namun, baru-baru ini riset yang dilakukan oleh penulis buku “The Happines Track” mendapatkan hasil bahwa kreatifitas berhubungan erat dengan kecemasan seseorang. Dari riset tersebut didapatkan hasil bahwa pendorong terciptanya ide-ide besar adalah proses relaksasi.

budapest-525857_640

(Budapest. Image credit: Pixabay.com)

Beberapa fakta sejarah pun mendukung temuan ini. Tahun 1881, Nikola Tesla, seorang penemu ternama, melakukan kunjungan ke Budapest dan jatuh sakit di negara tersebut. Kemudian seorang temannya berinisiatif mengajaknya jalan-jalan agar ia cepat pulih. Di saat itulah Tesla kemudian menemukan teori rotasi medan magnet yang hingga saat ini digunakan sebagai dasar kerja alat-alat modern di dunia.

Tak hanya itu, Frederich August Kekule, seorang ahli kimia organik abad 19 di Eropa, menemukan pola struktur senyawa kimia benzena berbentuk cincin juga ketika tengah melamunkan seekor ular yang menggigit ekornya sendiri. Pun hal yang sama terjadi dengan Albert Einsten. Ia selalu menjadikan musik  dalam hal ini Mozart, sebagai pelarian di kala manghadapi masalah yang komplek atau sedang butuh banyak inspirasi.

Sederhananya, kreativitas muncul justru ketika otak kita sedang menerawang, melamun, tidak fokus dan beristirahat. Jadi, tidak heran jika ketika sedang mandi, tiba-tiba Anda mendapatkan sebuah ide besar yang dapat mengubah hidup Anda.

Penelitian yang dilakukan oleh University of California dan profesor psikologi dari Santa Barbara, Jonathan Schooler serta rekan-rekannya,  mendapatkan hasil bahwa orang akan lebih kreatif ketika sedang melamun dan membiarkan pikirannya berkelana. Dan dalam sebuah artikel dalam Annual Review of Psychology, Scooler dan seorang professor psikologi lainnya, Jonathan Smallwood menyatakan bahwa ketika seseorang dihadapkan pada sebuah persoalan yang menantang, lebih baik persoalan diselesaikan dari yang paling mudah kemudian baru yang sulit. Hal ini penting untuk menyeimbangkan antara linear thinking, pemikiran yang butuh tingkat fokus tinggi, dengan creative thinking. (*)