Apakah Anda Kecanduan Bekerja?

Merasa bergairah atas apa yang Anda kerjakan merupakan hal yang fantastis. Merasa semangat untuk pergi ke kantor, bergumul dengan ide-ide baru dan selalu ingin ada perubahan setiap saatnya? Hal tersebut sangatlah luar biasa. Namun terdapat batas yang cukup tipis antara ‘kecanduan dan ‘workaholic.

The Muse memberikan 7 checklist, coba periksa diri Anda sendiri, apakah Anda sudah termasuk kecanduan bekerja? Tanyakan 7 pertanyaan ini kepada diri sendiri:

1. Apakah saya bekerja dalam jangka waktu yang lama karena, jika saya tidak seperti itu maka saya tidak akan dapat meraih target saya, dan orang-orang akan berpikir bahwa saya gagal?

Rasa takut seperti ini dapat mengarahkan diri Anda untuk merasa bahwa pekerjaan merupakan salah satu cara bagi Anda diterima oleh orang lain. Dalam situasi ini, bekerja menjadi candu bagi diri Anda untuk menegaskan siapakah Anda. Efek sampingnya, sama seperti mengkonsumsi narkoba, Anda tidak pernah merasa puas atas apa yang sudah Anda lakukan, sebaik dan sekeras apapun Anda bekerja.

Baca juga: Mengelola Karyawan Workaholic

2. Apakah saya merasa cemas ketika saya tidak bekerja?

Pekerjaan merupakan bagian besar dalam hidup Anda, dan bagian dari identitas Anda juga. Namun akan menjadi masalah ketika pekerjaan menjadi seluruh identitas diri Anda. Jika Anda merasa tidak nyaman, merasa cemas ketika meninggalkan pekerjaan Anda sejenak saja, maka hal itu tidaklah baik bagi diri Anda.

3. Apakah saya membawa pekerjaan saya selama liburan? Apakah saya mengecek email saya karena takut akan melewatkan hal yang penting?

Jika pandangan Anda selalu bertahan pada gadget Anda, mengecek setiap email yang masuk dan melupakan teman dan keluarga Anda, maka itu adalah pertanda bahwa Anda terlalu cemas dengan pekerjaan Anda. Jika Anda terus-terusan merasa takut merasa terlewat sesuatu yang penting terkait pekerjaan, maka itu merupakan tanda lain bahwa hubungan Anda dan pekerjaan Anda perlu diperbaiki.

4. Apakah saya tetap memikirkan pekerjaan bahkan ketika sedang tidak bekerja karena saya takut jika saya tidak melakukan apa-apa maka akan terjadi sesuatu yang buruk?

Jika Anda mendapatkan ide untuk proyek terbaru ketika sedang mandi, mungkin itu hal yang wajar. Memikirkan proyek yang baru saja Anda terima ketika sedang menyetir pulang juga merupakan hal yang wajar. Namun ketika Anda berpikir bahwa segalanya akan berantakan ketika Anda tidak hadir ke kantor karena alasan apapun, maka itu merupakan pertanda bahwa pekerjaan Anda dipengaruhi oleh rasa takut, bukan kesenangan.

5. Apakah saya tetap bekerja ketika saya sakIt karena jika tidak maka orang lain akan berpikir jika saya sedang bersantai-santai di rumah?

Terlalu banyak orang memaksakan diri untuk bekerja bahkan ketika mereka sakit. Tahukah Anda bahwa hal ini artinya Anda mulai melupakan kesehatan Anda. Satu hal yang perlu Anda tanyakan pada diri Anda sendiri adalah, mengapa Anda melakukan hal tersebut? Apakah Anda memaksa untuk ke kantor karena ada proyek yang harus diselesaikan pada hari itu dan tidak ingin membuat kecewa rekan Anda? Atau Anda memaksa untuk ke kantor karena Anda takut tidak diterima rekan Anda dan Anda akan ditarik dari proyek tersebut?

6. Apakah saya selalu memperhatikan gadget saya setiap saat?

Gadget Anda saja perlu waktu untuk di recharge, sama halnya dengan diri Anda. Menurut John De Graaf dalam laporannya pada Marketplae, perempuan yang tidak mengambil jatah cuti liburannya memiliki kemungkinan 2 sampai 8 kali untuk mengalami depresi dan memiliki kemungkinan 50% untuk menderita sakit jantung. Dengan kata lain, me-recharge diri Anda bukanlah pilihan, namun suatu kewajiban. Jika Anda menjadikannya sebagai pilihan, maka hal itu akan membuat Anda berpotensi untuk menghancurkan diri Anda sendiri.

7. Apakah saya takut untuk mendelegasikan tugas saya pada orang lain karena takut mereka tidak dapat memenuhi standar saya? Sehingga saya selalu mengerjakan tugas lebih banyak dibandingkan orang lain?

Mereka yang workaholic kerap kali mengganggap diri mereka selalu dibutuhkan dan memiliki target yang tidak realistis atas diri mereka ataupun orang lain. Mereka selalu bekerja dan melakukan lebih banyak dibandingkan orang lain.

Rasa takut akan dianggap lemah, malas ataupun takut karena tidak akan diterima oleh orang lain merupakan hal yang tidak perlu. Jika Anda selama ini melakukan pekerjaan Anda karena dibayangi perasaan seperti itu, mungkin sekarang saatnya Anda untuk take a break dan memikirkannya kembali.

Lalu, bagaimana untuk mengakhirinya?

Hadapilah ketakutan Anda. Tidak semua apa yang Anda bayangkan akan terjadi. Tariklah nafas dalam-dalam dan yakinkan pada diri Anda bahwa semuanya akan terjadi seperti biasanya. Memulai untuk menyeimbangkan hubungan antara Anda dan pekerjaan memang sulit, namun pasti bisa.

Baca juga: Banyak Karyawan Pura-pura Workaholic

Tags: ,